31 C
Kudus
Selasa, Januari 26, 2021
Beranda Kisah Di Balik Nama...

Di Balik Nama Dua Koma Lima, Pengingat Jika Ada Hak Orang Lain di Tiap Penghasilan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi jalan di Dukuh Bonajar, Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tampak sebuah bangunan bambu tanpa dinding. Di dalam bangunan itu tampak beberapa pria sibuk. Sedangkan di samping mereka terlihat ratusan karung dan plastik berisi pupuk organik. Pupuk organik itu bermerk Dua Koma Lima dan merupakan produk dari Dua Koma Lima Farm.

Pemilik dari Dua Koma Lima Farm yakni Safuan Noor (25) menuturkan, Dua Koma Lima Farm merupakan usaha di bidang produksi pupuk organik. Usahanya itu dirintis sejak ia masih duduk di bangku kuliah di Universitas Sebelas Maret ( UNS) jurusan peternakan, setelah ia terlibat pengembangan produksi pupuk organik.

Pengemasan pupuk organik Dua Koma Lima. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Tolak Gaji Rp 25 Juta Per Bulan di Jepang, Safuan Pilih Rintis Usaha Produksi Pupuk Organik

“Setelah dapat pengalaman itu, saya kemudian pulang ke Kudus untuk bertemu dengan teman – teman alumni Ponpes Assa’idiyyah Kudus. Di pertemuan itu saya bawa sampel produk pupuk organik. Di situ saya ngomong kalau ingin produksi pupuk organik sekaligus minta saran untuk merk produknya,” ujar Safuan kepada Betanews.id, Senin (23/11/2020).

Pria yang tinggal satu desa dengan tempat produksi pupuk organiknya itu mengatakan, teman – temannya itu menyarankan untuk memberi nama usaha dan produk pupuk organiknya dengan Dua Koma Lima. Menurutnya, teman – temannya memilih itu sebagai pengingat. Bahwa setiap hasil yang akan diterimanya dari usahanya itu ada rezeki orang lain yang dititipkan padanya.

“Saya pun setuju dengan nama usaha tersebut. Karena memang, saya ingin di usahaku itu tersemat nilai dakwah. Serta bisa sebagai pengingat bahwa setiap penghasilan yang kita dapatkan, dua koma lima persen adalah hak orang lain yang membutuhkan,” bebernya.

Pria yang dikaruniai satu anak itu menuturkan, awal merintis usahanya itu di Solo, sebab ia saat itu masih kuliah. Setelah lulus kuliah ia kemudian merintis usaha serupa dengan nama serupa di desa kelahirannya. Sedangkan yang di Solo kata dia saat ini dijalankan oleh teman – temannya.

Dia mengatakan, membuat pupuk organik dengan bahan kotoran ternak sapi, kerbau, dan kambing. Kotoran tersebut diproses dikomposisi dan ditambah dikomposer racikan sendiri. Dia mengaku, pupuk organik Dua Koma Lima dikemas dengan dua wadah.

“Pupuk organik saya kemas menggunakan dua wadah. Satu menggunakan plastik yang harganya Rp 5 ribu. Serta yang kemas wadah karung harganya Rp 15 ribu. Dengan harga tersebut pelanggan sudah ikut berdonasi bagi mereka yang membutuhkan,” jelasnya.

Dia bersyukur, pupuk organiknya selama ini banyak peminatnya. Pelanggannya selain orang Kudus juga banyak orang Jepara dan Pati. Dalam sebulan ia kalkulasi bisa menjual lebih dari 500 karung. Dia juga selama ini selalu menghitung pemasukan kotor dan tak lupa memberikan dua setengah persen dari penghasilan kepada mereka yang membutuhkan.

Baca juga : Baca juga : Woto, Mantan Pekerja Proyek yang Sukses jadi Penyuplai Tanaman Hias

“Selama ini donasi itu saya berikan langsung kepada mereka yang membutuhkan. Di antaranya kaum duafa, yatim, piatu atau yatim piatu. Terkadang juga saya salurkan lewat lembaga,” katanya.

Ke depan kata dia, donasi 2,5 persen dari penghasilannya itu rencana akan disalurkan lewat lembaga. Ia mengaku sudah bekerja sama dengan lembaga pendidikan, agar donasi itu bisa membantu siswa kurang mampu agar bisa tetap bersekolah.

“Saya harap usaha pupuk organikku makin diminati dan laris. Sehingga akan banyak donasi untuk mereka yang membutuhkan,” harap Safuan.

Editor : Kholistiono

Tinggalkan Balasan

27,870FansSuka
14,114PengikutMengikuti
4,311PengikutMengikuti
27,373PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler