BETANEWS.ID, PATI – Puluhan buah sukun tampak di teras rumah yang berada di Dukuh Tambak Mijen, Desa Wonosekar, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Di sampingnya, dua perempuan sedang sibuk mengupas satu persatu buah sukun itu. Sedangkan yang pria sibuk mencuci buah sukun dan mengukusnya. Pria tersebut adalah Abdul Muyis (32) pemilik usaha pembuatan Tape Sukun Adzikri.
Sembari beraktivitas, pria yang akrab disapa Abdul itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai produksi tape sukun sejak sebulan yang lalu. Ide membuat tape sukun itu muncul karena tidak ada kesibukan di rumah selama pandemi. Dari pada tidak ada kegiatan itulah, ia bersama ibunya iseng-iseng cari kesibukan bereksperimen membuat tape sukun.

“Bisa dibilang bikin tape sukun itu iseng-iseng jadi penghasilan. Yang tadinya iseng malah tape sukun banyak diminati, bahkan sampai kewalahan melayani pesanan,” ujar Abdul kepada Betanews.id, Kamis (8/10/2020).
Baca juga: Menengok Pembuatan Tape Kuwawur yang Melegenda dari Sukolilo
Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, sebenarnya untuk membuat tape sukun yang layak konsumsi dan layak jual itu, ibunya bikin uji coba hingga empat kali. Pertama gagal karena rasanya asam. Uji coba Kedua gagal karena warnanya tidak menarik, alias putih pucat pasi. Pembuatan ketiga gagal karena tampilannya berantakan. Baru diuji coba yang ke empat itu hasilnya sempurna.
“Diuji coba ke empat tape sukun kami sudah sangat layak jual. Dari tampilan, warna, dan rasa itu oke semua. Itu semua ternyata kuncinya ada di bahan baku yakni buah sukun. Buah sukun yang dijadikan tape harus benar-benar tua, tapi jangan sampai matang. Istilahnya itu kemampo,” ungkapnya.
Setelah tape sukun jadi sempurna, lanjutnya, kemudian dipasarkan lewat WhatsApp story. Ternyata respon teman-temannya sangat bagus. Mereka penasaran hingga langsung pada beli untuk mencicipi tape sukun tersebut. Usai merasakan dan puas dengan rasanya, banyak dari mereka daftar jadi reseller. Untuk saat ini, pesanan dari reseller sudah lumayan banyak, sebab tape sukun lagi laris manis di pasaran.
Bahkan, ia mengaku sering kewalahan melayani permintaan para pelanggan, karena buat berapapun pasti habis. Dia bersama keluarganya sampai tidak bisa mencicipi lezatnya tape sukun. Sebab, setiap selesai dikemas, reseller langsung datang. Kemudian berapa pun tape sukun yang ada diangkut semua.
“Ya mungkin kami ke lebih tidak ingin mengecewakan para pelanggan, ya. Sebenarnya bisa saja kami menyembunyikan beberapa besek tape sukun untuk nanti kami makan. Namun, rasanya tidak tega saja sama reseller, kalau mereka dapat pesanan dan kami tidak bisa melayani,” kata Muyis.
Baca juga: Es Tape Ketan Bu Djah, Segarnya Minuman Tradisional yang Bikin Nagih
Dia mengatakan, dari proses pengemasan sampai tape sukun siap dimakan itu butuh waktu 24 jam. Sedangkan kendala pembuatan tape sukun itu ada di bahan bakunya. Ia mengaku kesusahan mendapatkan sukun tua berkualitas. Padahal dia sudah bekerjasama dengan enam petani sukun untuk menyuplai bahan baku. Tapi tetap saja masih kekurangan.
“Karena bahan baku itulah, kami membatasi produksi tape sukun kami. Sehari kami rata-rata hanya produksi sekitar 100 besek. Harganya itu Rp 12 ribu per besek,” beber Abdul.
Pelanggan itu datang dari berbagai kota meliputi, Jakarta, Semarang, Wonosobo, Purwokerto, Semarang, Surabaya, Batam, dan tentunya wilayah Karesidenan Pati.
Dia berharap, orang yang menyukai tape sukun itu bukan hanya karena penasaran saja. Namun, masyarakat konsumtif terhadap tape sukun itu berlanjut terus tanpa mengenal musim. Sehingga tape sukun tetap diminati dan tetap laris manis di pasaran.
“Semoga saja tape sukun kami makin diminati dan makin laris,” tutup Abdul.
Editor: Ahmad Muhlisin

