31 C
Kudus
Selasa, Juni 28, 2022
spot_img
BerandaKISAHBerawal Usaha Pentol...

Berawal Usaha Pentol Bermodal Rp 15 Ribu, Kini Sumi Sukses Rambah Bisnis Sempolan dan Tahu Walik

BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam ruang dapur sebuah rumah di Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terlihat seorang perempuan sedang sibuk. Dia tampak mengambil adonan dicetak dan diberi tusuk bambu. Kemudian adonan yang tercetak itu dimasukan ke dalam air panas. Perempuan tersebut yakni Sumiatik (44) pemilik usaha tahu walik sempolan Isna.

Seusai menyelesaikan pekerjaannya, perempuan yang akrab disapa Sumi itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia menuturkan, mulai merintis usahanya itu sejak awal tahun 2009. Menurutnya, awalnya merintis usaha itu membuat pentol kojek dari tepung dengan modal Rp 15 ribu.

“Dulu kehidupan kami sangat susah. Suami kerja jadi buruh bangunan. Sedangkan saya kerja nguli di tempat tetangga,” ujar Sumi kepada betanews.id, Jumat (28/8/2020).

Sumi sedang memasak sempolan. Foto: Rabu Sipan
- Ads Banner -

Baca juga : Kisah Sukses Farida, dari Juragan Sate Ayam Jadi Bos Triplek Bekas

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, awal merintis usaha butuh perjuangan dan kesabaran. Sedangkan ide didapat dari penjual pentol tepung yang mangkal di depan rumahnya. Menurutnya, saat itu penjual pentol itu menawarinya untuk jualan pentol serupa. Di pun mengiyakan dengan syarat diajari bikin pentol.

“Penjual pentol itu pun bersedia mengajariku bikin pentol. Setelah bisa, dengan modal Rp 15 ribu saya bikin pentol dari tepung tapioka setengah kilogram,” ungkapnya.

Setelah jadi, pentol itu pun dijajakan di dekat musala dekat rumahnya. Pentol tepung itu laris dibeli sama anak – anak. Menurutnya, yang menjadikan pentol tepung buatannya laris itu yakni saus yang ia bikin sendiri.

Karena laris itu, lanjutnya, hasil uang penjualan diputar terus untuk produksi pentol. Dari jualan di dekat musala, jualan di sekolah – sekolah pun ia lakukan. Agar bisa membantu ekonomi keluarga. Hingga pada awal 2010, suaminya memutuskan tidak merantau kerja jadi buruh bangunan lagi, dan bersedia saya ajak untuk jualan pentol.

“Suamiku pun tak minta untuk ikut jualan pentol. Pas kebetulan saat itu di desa kami ada acara pertunjukan ketoprak, jadi suami saya ajak mremo,” bebernya.

Dia menuturkan, jualan di acara pertunjukan ketoprak itu laris manis. Seusai acara tersebut, suaminya pun berinisiatif berjualan pentol secara keliling. Meski untungnya saat itu hanya Rp 20 ribu sehari. Namun suaminya tetap menekuninya.

“Dengan penghasilan tersebut, beberapa kali tetangganya iba dan berkata ‘Apa cukup penghasilan Rp 20 ribu sehari untuk cukupi kebutuhan keluarga’. Namun, suami saya pun tidak menghiraukan perkataan tetangganya itu. Berdagang pentol lanjut terus,” katanya.

Hingga suatu waktu, lanjutnya, suaminya diberi saran temannya untuk jualan pentol yang ada dagingnya. Menurut teman suaminya, pentol yang dikenal dengan kojek itu lagi banyak diminati. Menurutnya, suaminya pun tertarik untuk berjualan pentol kojek tersebut.

Lebih lanjut, atas perintah suaminya, ia pun membikin pentol kojek yang terbuat dari tepung dicampur daging ayam, dan sapi. Menurutnya, saat pentol kojek jadi dan dijajakan oleh suaminya, pentol kojek kuah dan bakar itu sangat laris manis. Sehari pada saat itu bisa menghabiskan pentol kojek hingga 30 kilogram.

“Saya bersyukur, dengan produksi dan berjualan pentol kojek keliling, ekonomi keluarga kami mulai meningkat. Berjalan beberapa tahun selain jualan keliling, kami juga punya beberapa lapak penjualan pentol kojek,” ungkapnya.

Dia mengatakan, penjualan pentol ramai dan laris terus. Hal itu berjalan sekitar enam tahun, dan saat itu penjual-penjual kojek di Kecamatan Gembong hanya lima orang.
Bahkan, selain suaminya jualan keliling dia juga punya empat lapak untuk menjajakan pentol kojeknya.

Baca juga : Kisah Jitun Olah Minuman Sari Rempah, Awalnya Tak Laku Sampai Berhenti Produksi

Hingga pada tahun 2016, tuturnya, pedagang kojek kuah dan bakar mulai menjamur. Hal itu memengaruhi penjualan pentol kojek Sumi yang mengalami penurunan omzet. Untuk mengatasi hal tersebut, ia pun kemudian berinovasi membikin sempolan.

“Inovasi itu berhasil. Penjualan pentol yang agak turun karena banyaknya pesaing, akhirnya bisa naik lagi karena ada sempolan. Sempolan saya juga laris manis,” kata Sumi.

Dia bersyukur usaha pembuatan pentol dan sempolan yang dulu hanya bermodal Rp 15 ribu kini terlihat hasilnya. Dari usaha itu, dia mengaku bisa membeli beberapa motor, mobil dan bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

“Alhamdulillah berkat kerja keras dan tentunya atas takdir Allah usaha kami diberi kelancaran. Semoga bisa makin maju dan berkembang,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler