Ritual Adus Sendang jadi Puncak Acara Suro Wiwitan

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dua orang perempuan membawa obor berjalan pelan menuju Sendang Mintoloyo yang berada di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Kota Semarang.Di belakang dua perempuan itu, tampak seorang laki-laki bertelanjang dada membawa sebuah kendi, berjalan mengiringi perempuan tersebut. Kemudian di belakangnya juga tampak puluhan orang mengikuti.

Setelah sampai di pinggir sendang, kemudian tampak seorang lelaki menaburkan kembang di area tersebut. Hal itu adalah bagian dari rangkaian ritual prosesi Adus Sendang pada malam 1 Sura, sekaligus puncak dari perayaan Sura Wiwitan, yang berlangsung pada Jumat (21/8/2020) malam.

Baca juga : Belajar Konservasi Alam Lewat Film Negeri Dongeng

-Advertisement-

Prosesi Adus Sendang atau mandi air sendang ini, merupakan wujud pembersihan diri dalam menghadapi kehidupan di tahun yang baru. Selain itu kegiatan tersebut juga berisi ajakan kepada masyarakat untuk menjaga sumber air.

“Ini Sura Wiwitan ke-6 yang digelar di TBRS. Agendanya sebenarnya hampir sama, seperti nampah sedekah, selamatan, panggung seni dan ritual Adus Sendang,” papar Wishnu Kusuma, Koordinator Acara, Jumat (21/8/2020).

Ia katakan, ritual Adus Sendang merupakan agenda puncak yang sering ditunggu-tunggu para masyarakat.

“Agenda ritual Adus Sendang ini adalah simbol dari pensucian diri di tahun baru ini. Supaya tidak melakukan keburukan atau kesalahan yang sama dari tahun sebelumnya,” papar dia.

Lebih lanjut, Wishnu katakan, jika Sura Wiwitan kali ini cukup banyak warga yang datang, meskipun masih kondisi pandemi. Oleh kerena itu, panitia tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Sempet kaget juga, tahun ini antusiasme orang yang datang banyak sekali. Mungkin ini yang paling ramai. Namun karena masih kondisi pandemi, kami sudah siasati untuk pemberlakuan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Baca juga : Tak Ada Kirab Budaya, Tradisi Tebokan Jenang Terlaksana Secara Sederhana

Acara yang melibatkan para relawan kebudayaan dari berbagai lintas wilayah itu dikatakan Wishnu cukup sukses. Beberapa penampil panggung seni yang datang dari komunitas kampus di Semarang, warga sekitar TBRS hingga Tari Sufi Nusantara oleh Sedulur Caping Gunung Nusantara dan Kiai Budi Harjono juga ikut serta andil.

“Tahun ini banyak sekali penampil. Dari Teater Emka UNDIP, Komunitas Seni Polines (Konsep), Teater Gema UPGRIS, Teater Matajiwa Semarang, Lanang Wadon dan masih banyak dari seniman dan budayawan Semarang. Itu meliputi monolog, performance art, dongeng, Macapat, live music, live mural, tari. Termasuk dari Sedulur Caping Gunung Nusantara dan Kiai Budi Raharjo,” papar dia.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER