BETANEWS.ID, KUDUS – Pandangan puluhan orang di Kafe Kopi Cilik tampak fokus pada sebuah layar televisi besar yang sedang memutar sebuah tayangan. Mereka terlihat menikmati sepanjang pemutaran sampai selesai. Rupanya, malam itu sedang ada nonton bareng (nobar) film Negeri Dongeng yang diputar serentak di 35 titik termasuk di Kudus.
Nobar di Coffee Shop di Jalan Kyai Telingsing Nomor 96, Desa Sunggingan, Kecamatan Kota Kudus itu diprakarsai oleh Muria Research Center Indonesia (MRC Indonesia) dan Artsotika Muria. Karena masih pandemi, peserta pemutaran juga dibatasi hanya sekitar 20 orang saja.

“Ini nobar serentak di 35 titiik. 33 titik ada di kota seluruh Indonesia, termasuk di Kopi Cilik Kudus ini. Dua titik di luar negeri di Jepang dan Azerbaijan. Tepat di hari Kemerdekaan RI ke-75 ini,” papar Perwakilan Artsotika Muria Agus Wahyu Subagyo (36), Senin (17/8/2020).
Baca juga: Melihat Tradisi Wiwit Kopi di Lereng Pegunungan Muria di Masa Pandemi
Agus menjelaskan, Negeri Dongeng merupakan film produks Aksa7 yang rilis di tahun 2017. Film bergenre dokumenter itu menceritakan kisah pendakian di tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Film yang merekam berbagai kondisi dan situasi alam serta masyarakat di sekitar gunung tersebut punya nilai edukasi yang tinggi terhadap kelestarian alam.
“Film ini kaya akan nilai edukasi. Tidak hanya perihal pendakian, tetapi juga perihal kondisi alam, kondisi masyarakat, dan budaya yang ada. Kebetulan kami juga kebanyakan sering naik gunung, apalagi MRC Indonesia yang sering ada riset untuk konservasi di lereng Gunung Muria. Jadi sangat cocok jika diadakan nobar dan diskusi film ini,” ujar dia.
Menurut Agus, pemutaran film ini memang menyasar para pecinta gunung. Sebab, pendakian itu tidak sesepele seseorang bisa mencapai puncak suatu gunung, akan tetapi bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan. Seperti pelestarian alam, memperhatikan kondisi sosial masyarakat, serta sumber daya yang harus dimanfaatkan secara tepat.
“Sekarang masih sangat populer pendakian gunung, tetapi edukasi dan esensi naik gunung sering dilupakan dan disepelekan. Sehingga kita tidak cuma selfie-selfie menunjukkan sudah bisa mendaki di puncak, tetapi apa yang bisa kita berikan kepada alam yang kita daki tersebut,” ungkap dia.
Baca juga: Sensasi Kamping di Bukit Puser Angin, Menikmati Senja dari Balik Tenda
Tak hanya menonton, para peserta juga diajak diskusi soal kondisi alam setelah pemutaran. Termasuk juga pembukaan donasi untuk Rumah Dongeng Rahmadi yang dibangun untuk anak-anak di kaki Gunung Rinjani.
“Jadi donasi seikhlasnya ini nanti kami kirimkan untuk Rumah Dongeng Rahmadi di Rinjani. Nantinya akan digunakan untuk membangun Ruang Integrated Space bagi anak-anak dan masyarakat di kaki Gunung Rinjani. Supaya mereka siap menjadi first responden di gunung untuk mengurangi kematian di sana,” pungkas Agus.
Editor: Ahmad Muhlisin

