BETANEWS.ID, KUDUS – Rokhim (32) memandang nanar hamparan pohon cabai di lahan yang ia garap di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Dengan muka datar, dia terpaksa memanen cabai yang harganya sedang terpuruk itu. Kekecewaanya memang seperti tak bisa ditutupi, meski dia masih cukup tangkas mengumpulkan cabai yang baru dipetik ke dalam sak.
Rokhim mengatakan, saat ini harga cabai merah ada di kisaran Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut, dirinya mengaku pasrah modal yang digunakan untuk menanam cabai tidak akan balik.

“Mau cari harga Rp 10 ribu (per kilogram) saja sudah mbatek (bingung). Kalau harga Rp 8 ribu atau Rp 9 ribu, tidak balik modal,” tuturnya, Senin (10/8/2020).
Rokhim melanjutkan, untuk menamam jenis cabai merah keriting, dirinya membutuhkan modal sekitar Rp 4 juta untuk luas setengah hektare. Hasilnya, dia mampu memanen cabai kurang lebih tiga kwintal.
Baca juga: Turun Drastis, Harga Cabai di Kudus Tak ‘Sepedas’ Rasanya
Menurutnya, harga cabai di bulan Januari 2020 atau sebelum pandemi Covid-19 masih bagus. Harganya di angka Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Namun, ketika masa panen tiba, harga cabai langsung anjlok.
“Kalau masa tanamnya butuh waktu sekitar 75 hari sampai 80 hari. Gampangnya tiga bulan baru panen,” jelasnya yang sudah delapan tahun bertani cabai itu.
Petani lain, Mulyono (45) mengaku kurang tahu secara pasti penyebab harga cabai turun. Namun, dengan harga Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu, dia mengaku bingung dengan kondisi tersebut.
“Uangnya masih dana sendiri. Jadi sangat terasa,” ungkap warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu.
Apalagi, saat ini sedang musim kemarau yang membuat biaya pengelolaan lebih tinggi karena tanaman mudah terserang penyakit, seperti ulat dan serangga (patek).
Baca juga: Ganjar Rela Gowes 53 Kilometer Gara-Gara Petani Milenial
“Kalau sudah masanya panen harus kita panen. Tidak bisa ditunggu, nanti membusuk,” jelasnya.
Terkait masalah keuangan supaya tidak merugi banyak, pihaknya meminta pemerintah agar bisa memperoleh akses pembiayaan lebih mudah dari bank. Saat harga cabai tidak bagus, pihaknya bisa mengajukan keringanan pembiayaan cicilan pokok maupun bunga.
“Saya kan, kebutuhannya banyak. Ada untuk anak dan lain-lain. Jadi kalau biaya swadaya sendiri sangat terasa saat harga tidak bagus,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

