BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu seusai berdagang kambing di pasar, Awik Supirman (50) tampak berkutat di kandang yang tidak jauh dari rumahnya. Dia terlihat memberi makan puluhan hewan peliharaannya itu dengan daun nangka. Tak lupa, bekas makan yang tercecer di sekitar kandang lalu ia bersihkan.
Baginya, merawat kandang agar tetap bersih adalah salah satu cara untuk menjaga kambing tetap sehat dan nyaman. Hal itulah yang sudah ia praktikkan selama puluhan tahun dan terbukti sukses. Oleh karenanya, Awik kemudian ingin membagikan tips membangun kandang kambing yang benar dan tentunya ramah lingkungan.

Warga Dukuh Klotok, Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu menuturkan, membuat kandang kambing memang tidak boleh sembarangan, atau asal jadi saja. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni sirkulasi udara, serta akses untuk membersihkan kandang tersebut.
“Kalau sirkulasi udaranya bagus dan bersih akan membuat kambing nyaman. Tetangga juga tidak terganggu dengan bau kotoran kambing. Otomatis pertumbuhan kambing bisa normal, serta kita juga tenang beternak, karena tidak dikomplain oleh tetangga,” ujarnya kepada Betanews.id, Selasa (7/7/2020).
Baca juga: Sebulan Jelang Idul Adha, Pirman Mulai Kebanjiran Pesanan Kambing
Untuk pemilihan bahan pembuatan kandang, ia memilih kayu kalimantan dikombinasikan dengan bambu. Kalau ukuran kandang bisa disesuaikan berapa banyak kambing yang dipelihara. Namun, dia menganjurkan antara kandang satu dan yang lainnya itu sebaiknya disekat.
Untuk sekat, Awik menyarankan lebar ruangnya tidak terlalu luas yaitu kisaran 2,5 meter. Menurutnya, panjang kambing paling besar itu tidak lebih dari dua meter. Jadi ada sisa ruang di belakang yang bisa dijadikan akses untuk melihat besar kambing secara utuh.
“Sekaligus bisa dijadikan jalan untuk mengeluarkan dan memasukan kambing ke dalam kandang. Tempat pakan kambing juga harus diperhatikan. Lebarnya sekitar setengah meter,” ungkapnya.
Soal luas kandang yang ngepres itu, lanjut Awik, itu dimaksudkan agar kambing tidak banyak bergerak. Alasannya, jika banyak bergerak, makanan yang dimakan tidak akan jadi daging tapi jadi tenaga. Selain itu, ia juga khawatir nanti leher kambing bisa terlilit tali pengikat dan mati.
Baca juga: Gagal Jadi TNI Hingga Tujuh Kali, Jenggot Justru Sukses di Usaha Jual Kambing
“Namun kalau terlalu sempit, kambing bisa stres, yang akibatnya memperlambat pertumbuhan kambing itu sendiri,” jelas pria yang sudah dikaruniai tiga orang anak itu.
Sedangkan untuk tinggi bangunan kandang, ia menyarankan tiga meter. Jangan terlalu tinggi juga jangan juga terlalu rendah. Kalau terlalu tinggi, takutnya banyak angin yang masuk bisa mengakibatkan kambing masuk angin. Kalau terlalu rendah, nanti kambingnya bisa kepanasan saat siang atau pas musim kemarau.
“Intinya kita harus membuat kambing senyaman mungkin. Agar pertumbuhannya bisa maksimal,” ujarnya.
Problem pembuatan kandang adalah menjaga kebersihannya. Makanya, ia juga menyarankan kandang sebaiknya dibuat model panggung. Tinggi panggung sekitar 60 sentimeter. Ukuran tersebut sudah cukup sebagai akses pembersihan kotoran kambing di kolong kandang.
Baca juga: Stok Hewan Kurban di Kudus Aman, Dinas Pertanian Intens Turun ke Lapangan
Dia menganjurkan kandang dibersihkan setiap hari termasuk kotoran kambing agar baunya tidak mengganggu tetangga. Menurutnya, kotoran kambing miliknya selalu diambil orang gratis untuk dijadikan pupuk. Dia mengaku tidak mau menjual kotoran takut tidak berkah.
“Untuk pakan, saya memberi makan kambing empat kali sehari semalam. Pagi, sore, dan malam saya kasih rumput dan dedaunan. Sedangkan siang saya kasih ampas tahu,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

