BETANEWS.ID, KUDUS – Pos pantau yang berada di depan Pendopo Kabupaten Kudus sudah tidak terlihat. Pos pantau tersebut sebelumnya ditempati tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus. Selain untuk pengamanan wilayah, pos tersebut juga digunakan petugas untuk memantau masyarakat saat pandemi Covid-19.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menuturkan, pos pantau yang berada di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus tersebut sudah dibongkar sejak tanggal 20 Juni 2020.
Menurutnya, selain pos pantau, portal yang biasanya untuk menutup jalan saat pembatasan jam malam pun juga sudah tidak dilakukan. “Sejak hari Sabtu (20/6/2020) pos pantau dan portal sudah tidak ada,” tuturnya, Selasa (23/6/2020).
Baca juga : Petugas Sanggongi Alun-Alun Kudus dan Balai Jagong Hingga Pagi
Walau begitu, pemberlakuan jam malam yang sudah ditetapkan dalam Intruksi Bupati Kudus dengan Nomor 130/01/2020 masih harus dilakukan.
“Peraturan tersebut masih berlaku (intruksi bupati). Terutama pembatasan jam malam,” jelasnya.
Andini menjelaskan, sejak 18 April 2020, Pemerintah Kabupaten Kudus memperlakukan pembatasan jam malam dari pukul 20.00 hingga 06.00 WIB. Waktu pembatasan jam malam tersebut, lebih dilonggarkan satu jam dari pukul 21.00 hingga 06.00 WIB. Kelonggaran satu jam tersebut berlaku sejak tanggal 21 Mei 2020 melalui intruksi bupati.
“Mulai hari Sabtu (20/6/2020), portal-portal yang biasanya untuk menyekat jalan sudah tidak ada lagi,” tuturnya.
Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo membenarkan, bahwasannya pos pantau dan portal menyekat jalan saat jam malam sudah tidak diberlakukan. Namun pihaknya meminta masyarakat untuk selalu menaati protokol kesehatan Covid-19. Terutama dalam mengenakan masker dan mengikuti pembatasan jam malam.
Saat ini, diakuinya, kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus memang semakin meningkat. Hal tersebut terjadi karena pihaknya masif dalam melakukan skrining tes swab.
Baca juga : Jam Malam Akan Diberlakukan di Seluruh Kudus
“Kita sudah punya alat tes swab sendiri. Sehari bisa 90 an. Kalau sehari positif tiga persen sampai empat persen, itu wajar,” tuturnya.
Hartopo berharap, dengan masifnya proses skrening tes swab, kasus Covid-19 di Kudus semakin cepat selesai.
“Mudah-mudahan simulasi ini berhasil. Dan semakin cepat selesai. Saya takutnya itu malah orang dari luar masuk ke Kudus,” tambahnya.
Editor : Kholistiono

