31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

Menengok Upacara Meron di Sukolilo, Ternyata Begini Sejarahnya…

BETANEWS.ID, PATI – Beberapa mengenakan beskap lengkap atau baju adat khas Jawa terlihat memasuki pelataran Masjid Baitul Yaqin Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Dengan iringan gending Jawa, mereka berjalan pelan di belakang penari untuk menuju tempat duduk yang telah disediakan di lokasi itu.

Puluhan orang yang merupakan perangkat Desa Sukolilo dan panitia itu, melakukan prosesi awal dari upacara adat Meron. Untuk selanjutnya, mereka melakukan rangkaian upacara Meron yang dihadiri warga dari berbagai daerah.

Baca Juga: Meriah! Tradisi Ampyang Maulid di Loram Kulon Diikuti Ribuan Peserta, Ada Pembagian Nasi Kepel

-Advertisement-

Sedangkan di bagian lain, yakni di ruas Jalan Raya Sukolilo, tampak belasan Meron atau gunungan yang diarak. Ribuan warga terlihat memadati jalan yang dilalui untuk arak-arakan Meron tersebut.

Banyak yang berdesakan untuk ‘ngalap berkah’ dengan berebut sesaji dan mengambil once dari gunungan yang diarak.

Ketua Panitia, Muhammad Soban Rahman mengatakan, pada perayaan Meron kali ini ada 13 gunungan yang diarak. Semua Meron tersebut, berasal dari kepala desa dan perangkatnya.

“Hari ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan Meron. Nah, hari ini pula ada 13 gunungan yang diarak oleh warga, ” ujar Soban Rohman, Jumat (29/9/2023).

Ia menjelaskan, makna dari gunungan itu sendiri adalah, simbol dari rasa syukur kepada Allah atas hasil bumi yang melimpah, khususnya di Desa Sukolilo. Kemudian, Meron ini juga sebagai cara untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

Kemudian terkait banyaknya warga yang berebut gunungan adalah, karena warga meyakini bahwa yang dapat gunungan itu bisa membawa keberuntungan.

“Gunungan itu ada namanya once. Once merupakan lambang atau simbol dari tameng prajurit. Nah rakyat atau warga ini merebutkan itu. Dengan keyakinan, bahwa itu membawa keberuntungan. Yang dagang bisa laris, yang tani pertaniannya bisa subur danain sebagainya,” ucapnya.

Disebutnya, Meron sebagai wadah untuk meningkatkan ketakwaan serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rezeki yang dianugerahkan kepada masyarakat Sukolilo.

“Kata meron dalam bahasa Kawi berarti meru atau gunung. Jadi, meron merupakan perlengkapan upacara adat berbentuk gunungan. Adapun dalam bahasa Jawa kuno, meron atau merong berarti mengamuk, artinya tradisi ini memperingati peristiwa perang Mataram melawan Pati, ” ujarnya.

Kemudian, dalam bahasa Arab, meron adalah mikraj yang berarti ke atas atau kemenangan. Kata meron juga merupakan akronim dari dua kata bahasa Jawa yakni rame dan tiron. Yaitu ramene tiron-tiron yang artinya ramainya meniru.

Ia pun menyebut, bahwa sejarah Meron diperkirakan ada sejak awal abad ke 17 pasca pasukan Mataram menyerang Kabupaten Pati.

Seperti halnya pada upacara Meron yang digelar di pelataran Masjid Baitul Yaqin Sukolilo pada hari ini, Jumat (29/9/2023), juga dibacakan sejarah tentang asal usul Meron.

Disebutkan, saat itu, pasukan Tumenggung Cinde Among, Kanjeng Tumenggung Candang Lawe, dan Kanjeng Raden Tumenggung Samirono gagal mengalahkan Adipati Pragola I, sehingga pasukan ini melakukan perjalanan pulang dari Pati ke Mataram.

Saat itu, pasukan tersebut melewati Desa Sukolilo kampung halaman juru srati gajah Kerajaan Mataram bernama Raden Ngabehi Suro Kadam. Ketika perang Mataram dan Pati berlangsung, Suro Kadam ditugasi Panembahan Senapati sebagai juru telik sandi.

Pasukan Mataram lalu memilih menetap di Desa Sukolilo setelah meninggalnya Adipati Pragolo I tahun 1600 M. Pasukan ini berjaga-jaga apabila nantinya Pati melakukan serangan balik terhadap Mataram.

Pada masa itu, pemerintahan Sukolilo masih berbentuk kademangan di bawah kekuasaan Adipati Pragola I yang dipegang Suro Kerto, adik Raden Ngabehi Suro Kadam. Suro Kerto inilah yang yang mengizinkan pasukan Mataram untuk menetap di Sukolilo hingga Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Among wafat di sana.

Baca Juga: “Taman Surga” Persembahan KB MNU Miftahul Ulum di Festival Ampyang Maulid Desa Loram Kulon

Menetapnya pasukan Mataram di Sukolilo bertepatan dengan bulan Maulid. Pada tanggal 12 Mulud tahun Aboge, Keraton Mataram melaksanakan prosesi Sekaten.

Mengingat pasukan Mataram masih merupakan trah Mataram, mereka merasa harus melakukan tradisi Sekaten meskipun di daerah lain. Akhirnya pihak Keraton Mataram yang pada saat itu dipegang oleh Raja Sultan Agung Hanyakrawati mengizinkan perayaan serupa Sekatenan meskipun pelaksanaannya dilaksanakan sehari setelah Sekaten.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER