BETANEWS.ID, JEPARA – Bagi masyarakat Karimunjawa, alam merupakan ibu sejati yang selalu memberikan apa yang manusia minta. Ketika alam mulai rusak semenjak adanya tambak udang, masyarakat pun tidak segan untuk mengorbankan dirinya demi kelestarian lingkungan.
Bambang Zakaria, Ketua Aktivis Lingkar Juang Karimunjawa bercerita bahwa rusaknya alam Karimunjawa ketika terus dibiarkan bukan tidak mungkin juga akan merenggut nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat.
Baca Juga: Tambak Udang Ancam Pariwisata Karimunjawa yang Jadi Penghasilan Utama Warga
Di Karimunjawa, ia mengatakan ada enam suku yang saling hidup berdampingan yaitu Jawa, Madura, Bugis, Mandar, Bajau, dan Buton. Ia sendiri merupakan keturunan asli dari Suku Bugis. Dalam adat budaya yang ada di Suku Bugis sangat memiliki kedekatan dengan alam.
Ia mencontohkan salah satunya yaitu bangunan rumah. Masyarakat suku Bugis yang tinggal di Karimunjawa masih mempertahankan adat tradisi berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Saat proses membangun rumah akan dikerjakan dengan gotong royong sampai bangunan tersebut bisa ditempati.
“Rumah orang Bugis itu dari kayu dan kayu kan dari alam. Orang Bugis kalau mau tebang pohon untuk buat rumah, itu aja mesti ijin dulu ke pohonnya. Sehingga kalau alam kami rusak, maka budaya juga akan rusak, sosial juga akan ikut rusak,” ujarnya pada Minggu (24/9/2023) di Bunga Jabe, Dusun Telaga, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara.
Ia kemudian melanjutkan bahwa baginya laut juga merupakan ibu sejati. Saat seorang anak meminta uang kepada ibu kandung, tetapi sang ibu sedang tidak memiliki uang maka ibu tersebut akan marah.
Namun alam menurutnya selalu menyediakan dan memberi apa yang manusia minta. “Kalau kita mau bersungguh-sungguh, mau beli mobil katakanlah bisa kok dengan hasil yang kita dapat dari laut. Ibu Susi bisa beli pesawat dengan hasil dari laut,” tambahnya.
Nilai budaya itulah yang kemudian juga menjadi semangat bagi dirinya untuk terus berjuang mempertahankan kelestarian lingkungan alam di Karimunjawa.
Baca Juga: Tambak Udang Buat Masyarakat Karimunjawa Tak Lagi Percaya Aparat dan Pemerintah
Sebab sebagai generasi penerus, menurutnya yang butuh dilakukan hanyalah menjaga apa yang sudah diwariskan oleh generasi terdahulu dan menjaga apa yang sudah diberikan oleh alam.
“Ketika saya melihat alam itu dirusak, saya sebagai orang Bugis mending saya mati daripada ibu saya (alam) diperkosa,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

