BETANEWS.ID, JEPARA – Pariwisata jadi sektor yang paling terancam dengan keberadaan tambak udang di Karimunjawa. Mengingat, pariwisata jadi penyumbang terbesar penghasilan warga, setelah perikanan dan perdagangan.
Padahal, berdasarkan UU No 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan dan PP No 50 tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPANAS), wilayah Karimunjawa telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Ini diperkuat dengan penetapan Karimunjawa sebagai Cagar Biosfer Dunia ole UNESCO pada 2020. Sehingga, mempertahankan serta menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Karimunajwa jadi hal yang mutlak.
Baca juga: Tambak Udang Buat Masyarakat Karimunjawa Tak Lagi Percaya Aparat dan Pemerintah
Ketua Aktivis Lingkar Juang Karimunjawa, Bambang Zakaria, mengatakan, dengan ditetapkan Karimunjawa sebagai KSPN dan Cagar Biosfer Dunia membuat sektor pariwisata yang ada di Karimunjawa sangat bergantung pada kelestarian alamnya. Namun, akibat keberadaan tambak udang, secara perlahan mengikis kelestarian serta keindahan lingkungan alam Karimunjawa.
Menurutnya, lahan tanaman mangrove banyak yang dibabat bahkan sampai mati karena tercemar limbah. Terumbu karang, ikan, bahkan rumput laut milik para petani juga ikut terkena serangan limbah. Area bibir pantai yang dulunya dipenuhi dengan pasir putih, kini banyak ditumbuhi lumut. Air laut juga ikut tercemar dan menyebabkan gatal-gatal ketika terkena kulit.
“Sedangkan dalam pariwisata sampah itu bukan hanya plastik, tapi pandangan yang tidak enak dipandang mata juga sampah. Pantai yang dulunya bersih sekarang dipenuhi hamparan lumut. Bau busuk yang mengganggu penciuman itu juga sampah. Suara bising akibat mesin tambak udang itu juga sampah bagi pariwisata,” katanya, Minggu (24/9/2023).
Baca juga: Tercemar Limbah Tambak Udang, Petani Rumput Laut di Karimunjawa Rugi Miliaran Rupiah
Sehingga menurutnya, ide yang sempat dilontarkan oleh pemerintah untuk membuat pariwisata dan tambak udang bisa berdampingan menjadi hal yang sangat tidak mungkin.
“Logikanya di mana ketika mau menyatukan pariwisata dengan tambak udang? Wong semua sampah ada di situ (tambak udang) sementara wisata nggak butuh sampah. Pendengaran, penglihatan, penciuman itu ada semua sampahnya,” tambahnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

