BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak duduk menunggu seorang pria membuat kue pancong di sebuah outlet di Jalan Raya Kudus-Jepara, Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Pria bernama Rio itu tampak sibuk dengan alat-alat masak untuk membuat kue yang lagi hits itu.
Setelah memasukkan adonan ke alat pemanggang, ia tampak menunggunya sambil bercengkerama dengan pembeli. Tak butuh waktu lama rupanya untuk mematangkan kue pancong itu, karena setelah jeda beberapa menit, ia sudah mulai menyusun ke wadah dan memberi topping.

Menurut Rio, kue berbahan dasar tepung terigu yang dimasak setengah matang lalu, ditaburi dengan bermacam-macam topping itu ternyata banyak dicari banyak orang, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.
Baca juga: Menikmati Kesegeran Es Alpukat Kocok di Minia Juice
Rio mengatakan, awal mula membuka usaha pancong lumer karena disarankan oleh temannya yang berjualan kue pancong di Jepara. Karena di Kudus belum banyak yang menjual, ia lantas mencoba peruntungan membuka usaha tersebut dengan modal Rp10 juta.
“Buka usaha mulai 2023, tepatnya bulan Juli lalu, karena saran dari teman,” jelas laki-laki asli Yogyakarta itu, Minggu 10/09/2023.
Di Outlet Lyio Pancong Lumer itu, Rio menyediakan 17 varian topping dan yang best seller ada enam. Cokelat yang digunakan sebagai topping juga jenis premium yaitu Goldenfil dengan sensasi crunchy. Dalam sehari, ia bisa menjual 40-50 porsi.
“Untuk harga mulai Rp7-12 ribu, pendapatan sehari dari buka mulai pukul 15.30-21.00 malam, kira-kira Rp200-500 ribu,” beber laki-laki berusia 24 tahun itu.
Baca juga: Pisang Nugget Sharmee, Bisnis Jajanan Kekinian yang Omzetnya Capai Rp60 Juta Sebulan
Meski kini mulai ramai, tapi perjalanan usahanya tak selalu mulus. Ia mengaku outletnya pernah mengalami perampokan saat baru beberapa minggu berjalan. Namun, ia tidak menyerah dengan usahanya, sehingga saat ini pancong lumer miliknya menjadi jujugan para pecinta makanan manis dan kekinian.
“Dulu juga pernah kerampokan waktu itu, baru beberapa minggu buka. Semua diambil dari kompor dan cetakan. Tapi, saat ini sudah banyak pembeli kebanyakan remaja dan anak-anak,” tuturnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

