BETANEWS.ID, JEPARA – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara, Haizul Ma’arif menyoroti cukup tingginya kasus kematian ibu dan bayi di Kota Ukir. Ia menilai, budaya gotong royong yang sudah ada di masyarakat perlu ditingkatkan kembali untuk bisa menekan angka kasus.
“Orang yang strata ekonominya tinggi justru susah menerima edukasi karena sudah merasa paham dan tahu, sehingga ini yang terkadang menyulitkan para petugas kesehatan yang ada di daerah. Kemudian masyarakat ketika diberi bantuan makanan terkadang makanan itu tidak diberikan kepada bayinya, sehingga kesadaran gotong royong dari masyarakat ini yang kita rasa perlu untuk ditingkatkan,” katanya di Kantor Radio Kartini Jepara, Rabu (20/9/2023).
Untuk menekan semakin bertambahnya angka kematian ibu dan bayi, ia menekankan agar ada peningkatan fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Jepara serta peningkatan profesionalisme dari para petugas kesehatan.
Baca juga: Angka Kematian Ibu dan Anak di Kudus Tinggi, 5 Bulan 35 Kasus
“Tadi ada aduan tenaga kesehatan yang ada di desa kurang profesional. Kalau ada laporan seperti itu, bagaimana kejadiannya itu harus segera ditindaklanjuti oleh DKK. Karena kesehatan ini kan berkaitan dengan nyawa sehingga harus cepat,” katanya.
Dengan meningkatkan layanan kesehatan, menurutnya, akan mampu mewujudkan tercapainya kemampuan hidup sehat bagi ibu dan keluarga, serta akan meningkatkan derajat kesehatan anak. Tujuannya tentu untuk menjamin proses tumbuh kembang anak berjalan dengan optimal.
Baca juga: Pernikahan Dini Pengaruhi Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kudus
Namun menurutnya, yang terjadi saat ini masih terdapat masalah dan tantangan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, di antaranya masih terdapat disparitas (perbedaan) tingkat sosial ekonomi di masyarakat sehingga timbul golongan kaya dan miskin baik itu di masyarakat perdesaan maupun perkotaan.
“Masih tingginya angka kematian ibu dan bayi berarti mengindikasikan masih rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk yang ada di masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

