31 C
Kudus
Jumat, Februari 13, 2026

Dari Kerajinan Bambu, Pasutri di Jepang Ini Bisa Sekolahkan Anak hingga Beli Tanah

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat sedang menganyam bambu di depan sebuah rumah Desa Jepang RT 02/RW 04, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Di dekatnya, bambu yang sudah siap dianyam tampak berserakan berikut dengan tali untuk finishing.

Pria bernama Jumadi (58) itu memang sehari-hari bergelut dengan bambu. Dari tangannya, ia bisa mencipatakan berbagai anyaman, seperti irek bambu, tampah, sapu, caping, hingga tambir.

Sunipah sedang membuat perabitan rumah tangga dari bambu di rumahnya. Foto: Anita Purnama Sari

“Kalau anyaman yang dibuat memang fokus di irek bambu, harganya macam-macam. Irek ukuran kecil Rp7000-10.000, yang ukuran tanggung Rp12.000-20.000, sedangkan yang paling besar dari Rp 23.000 ribu,” jelas laki-laki yang pernah bekerja sebagai karyawan pabrik itu, Jumat (4/8/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Perabotan Rumah Tangga dari Anyaman Bambu di Toko Rohis Ini Punya Banyak Peminat

Jumadi membeberkan, usaha itu merupakan caranya bangkit dari kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di PT Pura pada 2020. Daripada nganggur ia akhirnya membantu istrinya, Sunipah, yang memang sudah menggeluti kerajinan bambu sejak 2000.

“Saya dulu kerja di pabrik Pura ikut dua gelombang, masuk tahun 80an lalu, sekitar tahun 90an keluar terus masuk di Colombo. Karena Colombo bangkrut, saya masuk Pura lagi tahun 93 sampai tahun 2020. setelah itu saya bantu istri menganyam,” jelasnya.

Sunipah menambahkan, usaha kerajinan bambu ini merupakan usahanya membantu sang suami. Bahkan dari usaha tersebut, mereka bisa menyekolahkan anak hingga membeli tanah.

“Usaha anyaman bambu ini dulu untuk membiayai sekolah anak-anak. Alhamdulillah bisa beli tanah yang sekarang digunakan sebagai gudang tempat menyimpan dagangan,” jelas perempuan 56 tahun tersebut.

Baca juga: Pelanggan Tak Hanya dari Kudus, Moyong Sampai Kewalahan Layani Pesanan Anyaman Bambu Rigen

Dalam menjual produk, jumadi menjajakannya dengan keliling desa-desa dengan sepeda motor. Sedangkan Sunipah menjajakannya ke pasar-pasar seperti, Pasar Wates, Pasar Kliwon, Pasar Puri Pati, Pasar Baru, dan Pasar Bareng.

Untuk omzet penjualan yang didapat tidak bisa ditentukan karena dalam sehari Ia belum tentu ada pembeli.

“Kalau untuk omzet tidak tentu, karena sekarang kerjanya lebih santai jadi dikerjakan semampunya saja,” tutur ibu dua anak itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER