BETANEWS.ID, KUDUS – Di petilasan Eyang Sakri, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus terlihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk manis bersama dengan pertapa lainnya. Tampak dari kejauhan, Mulyo sedang asyik berbincang dengan orang yang juga ada di sana.
Kepada Betanews.id, Mulyo berbagi kisahnya seputar dunia pertapaan dan tirakatan. Sudah 49 tahun lamanya dirinya selalu menyempatkan waktu datang ke tempat tersebut untuk ngalap berkah.
Baca Juga: Satu Sura, Puluhan Ribu Pertapa Datang ke Desa Rahtawu Cari Berkah
“Saya mulai datang kesini dari umur 30 tahun, sekitar tahun 1974. Hingga saat ini kalau memang tidak ada halangan, setiap tahun pasti kesini, baik sendiri maupun bersama istri,” kata pria yang berusia 80 tahun tersebut.
Mulyo mengatakan, pertama datang kesana bermula direkomendasikan oleh orang tua yang sudah ia kenal baik, lantaran istrinya yang mempunyai penyakit kanker hingga empat kali operasi tidak ada hasilnya. Ia kemudian mencoba berikhtiar dan tikatan di tempat tersebut.
“Dulu istri saya punya penyakit kanker, bahkan empat kali operasi untuk bisa menyembuhkan penyakit itu malah tidak bisa sembuh. Kemudian saya disarankan untuk tirakatan di tempat petilasan Eyang Sakri ini, Alhamdulillah setelah berikhtiar di sini ada perkembangan,” bebernya, Rabu (19/7/2023).
Menurutnya, setelah empat bulan dari tempat tersebut, istrinya pun merasa agak berbeda dan merasa lebih baik dari sebelumnya. Mulyo yang mengetahui kabar baik itu pun merasa senang dan usahanya tidak sia-sia.
“Semakin hari, kondisi kesehatan istrinya pun lebih baik. Makanya setiap satu Sura ini saya tetap menyempatkan waktu kesini. Misalkan istri tidak ada kendala juga ikut. Ini saya bersama istri datang kesini,” ujar pria yang beralamat Desa Bango, Kecamatan/Kabupaten Demak tersebut.
Meski usianya yang sudah menginjak 80 tahun itu, ia bahkan terlihat masih segar bugar. Menurutnya, tidak hanya ke tempat Eyang Sakri, Mulyo juga akan ke tempat Eyang Lokojoyo juga.
“Kalau saat ini pada satu Sura ini akan berziarah ketempat Eyang Sakri dan Eyang Lokojoyo,” imbuhnya.
Sementara juru kunci petilasan Eyang Sakri, Agus Supriyadi menambahkan, setiap bulan Muharram, tempat itu salah satu menjadi jujugan para peziarah dari berbagai daerah. Bahkan menurutnya ada yang dari luar Jawa yakni dari Lampung maupun dari Kalimantan.
“Tujuan mereka datang, ngepasi hari pergantian tahun, awal dan akhir tahun Hijriyah dalam rangka ngalap berkah dan berdoa. Itu kan hari yang musjatab pergantian tahun itu, lah pada tirakatan. Itu juga tergantung pada kepercayaan masing-masing,” terangnya.
Baca Juga: Tebokan Jenang, Tradisi Syukuran Pengusaha Jenang di Kaliputu Kudus saat Bulan Sura
Tempat tersebut pun menjadi tempat pertama yang harus dikunjungi sebelum melakukan kunjungan ke petilasan lainnya yang ada di Desa Rahtawu.
“Bagi yang tahu, kalau di sini memang menjadi tempat pertama yang harus dikunjungi. Itu telah diamanahkan (paugeran) dari mbah-mbah dulu, karena pokok utamanya Eyang Sakri ini diyakini sebagai cikal bakal Desa Rahtawu,” jelasnya.
Editor: Haikal Rosyada

