Sejarah Tenun Troso: Dikenalkan Keturunan Sunan Muria, Kini Jadi Warisan Budaya Tak Benda Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Sosok Mbah Senu, Keturunan ke-14 Sunan Muria tak akan bisa lepas dari kemasyhuran Tenun Troso Jepara. Pria yang terlahir dengan nama Isnu Hidayat itu merupakan orang yang pertamakali mempopulerkan tenun di Desa Troso.

Kepala Desa Troso, Abdul Basyir, menjelaskan, Putra Raden Priyo Kusumo itu merupakan murid Syech Banjar. Setelah selesai menimba ilmu, mbah Senu kemudian kembali ke Muria dan mendapatkan amanat dari Kasepuhan Muria untuk meneruskan perjuangan Walisongo di Keling.

seorang warga sedang melewati gerbang Desa Troso. Foto: Umi Nurfaizah

Dulunya Mbah Senu menyebarkan agama Islam di Desa Jlegong, Kecamatan Keling, Jepara. Tetapi karena masyarakat di desa tersebut banyak yang menjadi penganut agama Hindu, sehingga keberadaan Islam kurang diterima. Maka dari itu, Mbah Senu kemudian berpindah menyebarkan Islam di Desa Troso.

-Advertisement-

Baca juga: Perajin Kain Tenun Troso Ini Pernah Diendorse Sandiaga Uno, Apa sih Keistimewaan Produknya?

Di Desa Tersebut, dia bertemu dengan Mbah Datuk Gurnadi Singorojo yang terlebih dahulu menyebarkan Islam dan kemudianmenggantikannya. Setelah Membangun Masjid Datuk Ampel, Mbah Datuk kemudian berlanjut menyiarkan Islam di Desa Singorojo, Mayong. Ketika hidup di Troso, Mbah Senu mengembangkan keterampilan menenun dari Syech Banjar yang kemudian diajarkan kepada masyarakat.

Pada awal mula perkembangan Tenun di Troso memang lebih banyak dipasarkan ke daerah Bali. Seiring semakin maju dan pemasaran terus meluas, kini Tenun Troso telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBtB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

“Ketika Mbah Datuk bertemu dengan Mbah Senu beliau itu kagum dengan pakaian yang dipakai (Mbah Senu), kemudian diceritakan bahwa Mbah Senu itu senang merancang-rancang, membuat desain.,” katanya pada Betanews di Balaidesa Troso, pada Selasa (11/04/2023).

Baca juga: Kain Tenun Troso Pakai Pewarna Alami yang Terlihat Elegan nan Mewah

Seiring berkembangnya waktu, tenun sudah menjadi mata pencaharian masyarakat setempat. Menurutnya, saat ini terdapat 600 lebih masyarakat yang berkerja sebagai pengrajin kain tenun. Jumlah tersebut mengalami pasang surut setelah motif tenun SBY tidak lagi menjadi pakaian resmi para pegawai pemerintah.

“Saat motif SBY dulu itu pengaruhnya sangat dirasakan oleh masyarakat, cari pengrajin susah karena yang punya usaha sampai ikut jadi pengrajin. Cuma ya sekarang agak berkurang, tapi masih bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER