Berlatih Membuat Naskah Drama, Acong: ‘Buka Hati dan Pikiran’

BETANEWS.ID, KUDUS – Acong, pegiat sastra dan teater Semarang berbagi tips dalam belajar menulis naskah drama bagi pemula. Acong menyarankan agar orang yang ingin memulai penulisan naskah drama untuk membuka hati dan pikirannya.

Menurut Acong, dalam memulai menulis naskah drama tidak perlu terbebani banyak teori. Seorang penulis pemula hanya perlu membiasakan dan mengolah rasa sampai akhirnya potensi diri muncul dengan sendirinya.

“Di era sekarang mestinya belajar membuat naskah lebih mudah, dengan adanya internet. Semua orang lebih mudah mengakses karya-karya penulis naskah drama untuk dipelajari,” beber Acong.

-Advertisement-

Baca juga: Berkat Sajak Sikat Gigi, Gus Mus Jadi Berani Menulis Puisi

Acong yang aktif di teater Metafisis (tahun 2000-2008) itu menyampaikan tipsnya tersebut saat peluncuran dan diskusi buku naskah lakon “Balad” karya Widyo “Babahe” Leksono, terbitan Buku Halah 2023. Acara tersebut dilaksanakan di joglo Dewan Kesenian Semarang (Dekase), pada Minggu (26/3/2023).

Peluncuran tersebut dihadiri oleh sejumlah mahasiswa Semarang yang aktif di teater kampus. Sementara sesi diskusi buku “Balad” menghadirkan Acong sendiri dan Ketua Dewan Kesenian Semarang, Adhitia Armitrianto sebagai pembincang.

Diskusi buku “Balad” yang dipandu aktivis teater muda, Ajeng dan Wisnu tersebut berlangsung hidup dengan keaktifan para penggiat teater kampus yang sebagian besar terdiri dari kalangan muda.

Acong sendiri menjadi bagian perjalanan Babahe dalam Balad. Saat Babahe menyelesaikan naskah Balad di 1999, Acong dan rekan-rekan teater kampusnya yang tersebar di beberapa perguruan tinggi di Semarang terlibat dalam latihan pementasan Balad. Hanya saja kegiatan Acong dan kawan-kawan saat itu berhenti pada proses latihan. Balad pun urung dipentaskan.

Sebagaimana Acong dengan beberapa karya naskah dramanya, salah satunya “Phela Phelu Jampes,” Adhitia juga sudah menelurkan beberapa naskah drama, salah satunya “Kup.” Adhitia berharap para aktivis teater kampus muda mau menulis naskah sendiri dan dipentaskan. Menurutnya, saat ini masih banyak teater kampus yang hanya mengandalkan naskah karya penulis lain untuk mereka pentaskan.

“Lebih baik lagi ada bank naskah untuk mendokumentasikan naskah-naskah drama yang pernah dibuat teman-teman,” ujar Adhitia.

Roy, Ketua Teater Gema Upgris mengatakan, ia dan teman-temannya sejauh ini sudah membuat beberapa naskah. Dalam prosesnya, Roy, mengaku harus mencari referensi naskah dulu.

“Dikasih naskah empat atau lima, kemudian membaca. Naskah-naskah itu dari sesepuh-sesepuh lah,” jelas Roy.

Baca juga: Pertunjukan Teater “Orang-Orang Berbahaya” Kental dengan Nuansa Komedi

Sementara Babahe menjawab problematika para penulis pemula melalui penyederhanaan metode observasi. Menurut Babahe, observasi dalam membuat naskah drama bisa dengan melihat dan merasakan segala peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Tidak perlu jauh-jauh mencari bahan untuk observasi, yang kita lihat saja, yang ada di sekeliling kita, bisa kita jadikan ide dan bahan observasi,” tutur Babahe.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER