31 C
Kudus
Rabu, Juli 24, 2024

Berkat Sajak Sikat Gigi, Gus Mus Jadi Berani Menulis Puisi

BETANEWS.ID, KUDUS – Trio Gayatri (Eki Naufal, Nadzar Tohary dan Moch Reva) tampak mengiringi Yudhistira ANM Massardi membaca puisi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syekh Jangkung Pati pada Jumat (17/02/2023). Melihat penampilan mereka, sejumlah tamu undangan terlihat dengan sigap mengambil handphone untuk mengabadikan moment itu. Setelah mendapat tepuk tangan meriah, penyair serta sastrawan yang akrab disapa Yudhistira itupun melanjutkan membaca sejumlah puisi tanpa diiringi Trio Gayatri.

Di sela-sela membaca puisi, Yudhistira bercerita tentang karyanya berjudul Sajak Sikat Gigi yang disebutnya menginspirasi KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Hal itu diungkapkan Gus Mus langsung saat bertemu dirinya di teras Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 1976.

Yudhistira ANM Massardi saat melakukan safari sastra di STAI Syekh Jangkung Pati. Foto: Ahmad Rosyidi.

Baca juga: STAI Syekh Jangkung Pati Ajak 25 Sekolah Ikuti ‘Senandung Cinta Pantura’

-Advertisement-

“Ketika saya melamun merenungi nasib saya di teras taman Gedung Kesenian Jakarta, ada yang datang dari belakang menyapa. Mas Yudhis ya, terima kasih sudah menulis Sajak Sikat Gigi. Berkat Sajak Sikat Gigi, saya jadi berani menulis puisi. Dan orang itu adalah Gus Mus,” cerita pria kelahiran Subang, Jawa Barat itu sambil memegang buku.

Pada kesempatan itu, Yudhistira menjelaskan kenapa dirinya merenung. Hal itu dikarenakan karyanya berjudul “Sajak Sikat Gigi” yang dinilai Dewan Kesenian Jakarta sebagai buku puisi terbaik tahun 1976 mendapat cibiran dari para penyair senior.

“Saya punya senior, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang, mereka merasa marah karena bukunya disejajarkan dengan karya anak kecil yang tidak tahu tentang kehiduapn puisi. Kemudian saya dibully. Dan muncul sajak baru, sajaknya ada di sini,” katanya sambil menunjukan buku yang berisi sajak berjudul “Biarin” itu sebelum ia baca.

Yudhistira mengaku menikmati polemtik di masa itu. Menurutnya, polemik tersebut membuatnya semakin terkenal karena banyak diperbincangkan. Setelah beberapa tahun menjadi bahan perbincangan, hingga akhirnya ada yang menilai bahwa “Sajak Sikat Gigi” seperti tikungan tajam dalam sastra Indonesia.

“Ada penyair besar Indonesia membuat pernyataan bahwa Sajak Sikat Gigi seperti tikungan tajam dalam sastra Indonesia. Dan tulisan-tulisan ini menjadi bahan skripsi, disertasi yang terus menerus hingga sekarang,” ungkapnya.

Baca juga: Singgah di Kudus, Penyair Yudhistira Kepincut Forum Kalen

Pada acara safari sastra bertajuk “Senandung Cinta Pantura” itu, Yudhistira mengaku, sebagai penyair muda waktu itu, dirinya menulis dengan bahasa dan tema sesuai keinginannya. Oleh karena itu dia dianggap sebagai penulis yang anti mainstream.

“Jadi semenjak SMA saya terbiasa menulis sajak yang tidak terbiasa oleh seniman senior soal filosofi. Saya memilih tema-tema sederhana. Saya harus bisa bicara sesuai dengan apa yang saya inginkan, dengan bahasa yang saya mau dan tema yang saya pilih,” tambahnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER