
*Catatan Edy Supratno di Malaysia
Di sela kegiatan resminya di kampus USIM dan Unisza di Malaysia (16-20 Maret), Edy Supratno, ketua STAI Syekh Jangkung mengamati hal-hal unik di sana. Berikut catatannya.
Ketika tiba di Bandara Kuala Lumpur ada satu istilah yang belum saya pahami, yaitu Bas Pesiaran. Ketika itu yang saya lihat busnya ukuran kecil. Saya kira itu bus untuk siaran semacam televisi. Tetapi ketika di bus besar juga ada tulisan itu saya jadi bertanya-tanya, apa sesungguhnya arti pesiaran.
“Kalau di Indonesia artinya bus wisata,” kata Syafiq menjelaskan.
Bas pesiarannya nyaman-nyaman. Tapi jangan berharap lajunya seperti di Indonesia karena kecepatannya dibatasi. Menurut sopir yang mengantar kami, biar pun gasnya diinjak sambil berdiri, kecepatan bus wisata di Malaysia hanya 80 km/jam. Katanya itu setting-an dari perusahaan untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang.
Syafiq menjelaskan, sektor wisata sempat mati total saat Pandemic Covid-19. Pemerintah Malaysia sangat tegas menutup akses dan gerak masyarakat. Saking tegasnya banyak masyarakat yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena merasa tidak sanggup menanggung beban hidup lagi.
“Misalnya karena tanggungan kreditnya banyak, sementara dia sudah tidak bekerja sehingga tidak ada pemasukan,” jelas Syafiq.
Banyaknya orang bunuh diri tersebut membuat pemerintah melakukan pencegahan dengan cara mengimbau di masjid-masjid agar jangan sampai bunuh diri.
Karena itu ketika Covid sudah melandai, pemerintah menggenjot sektor wisata sebagai pemasukan. Salah satu yang diperhatikan adalah kenyamanan wisatawan dari pengemis dan pengasong. Bagaimana jika turis haus? Di sudut-sudut tertentu disediakan air mineral dalam kemasan botol, harganya 1 RM. Pemerintah juga menyediakan bus gratis untuk turis.





