Wisata di Malaysia.

Masjid-masjid menjadi bagian yang dijadikan tempat wisata. Termasuk juga untuk turis non-muslim. Di setiap masjid disediakan jubah dengan warna mencolok. Di Masjid Negara misalnya, jubahnya berwarna ungu, sedangkan di Masjid Putra Jaya berwarna merah. Dengan jubah ini seluruh aurat turis tertutup, termasuk kepala. Tapi memakainya simpel.

Bagi kelompok non-muslim mereka tidak bisa mengakses seluruh ruangan masjid. Ada tempat khusus yang disediakan untuk mereka melihat isi masjid.

Saat jalan kaki dari parkiran bus menuju lingkungan masjid ini pula saya melihat banyak skuter berlabel Beam di pinggir jalan. Lagi-lagi warna ungu.

Skuter ini adalah moda transportasi yang disediakan untuk turis yang merasa lelah jalan kaki. Cara pemakaiannya melalui aplikasi di hape. Tarifnya menyesuaikan jarak yang ditempuh. Jika seseorang mau menggunakan dia cukup mengaktifkannya melalui aplikasi. Selesai pakai skuter itu ditaruh begitu saja di pinggir jalan.

Saya pertama kali melihat benda ini di depan hotel kami menginap di kawasan Petaling Street. Awalnya satu, besoknya saya lihat sudah bertambah. Ketika keliling kota saya melihat benda itu di pinggir-pinggir jalan.

- advertisement -

“Skuter ini sebagai pengganti sepeda,” jelas Syafiq, tour guide kami.

Muhammad Kusyanto, salah satu rombongan kami menceritakan, di kampusnya dulu di Institut Teknologi Bandung (ITB) juga sudah mempraktikkan skuter ini untuk mobilitas di kampus.

Di Malaysia memang ada Grab (motor), tapi jasa antar jemput ini dikhususkan untuk makanan. Untuk manusia tidak diperbolehkan karena berpotensi melanggar syariat Islam. Penumpangnya (terutama perempuan) pasti bukan muhrimnya.

Di luar persoalan sektor wisata yang digalakkan pemerintah Malaysia, satu hal yang saya perhatikan di negeri ini adalah kebebasan jurnalistik media massanya. Di saat salah satu dari rombongan kami menanyakan tentang isu salah satu raja yang menikah dengan ratu kecantikan, Syafiq mengaku tidak tahu informasi itu.

Di Malaysia, kehidupan raja sangat dijunjung tinggi. Masyarakat Malaysia tidak pernah menonton terkait sisi lain kehidupan raja di televisi maupun membacanya koran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini