
*Catatan Edy Supratno di Malaysia
Di sela kegiatan resminya di kampus USIM dan Unisza di Malaysia (16-20 Maret), Edy Supratno, ketua STAI Syekh Jangkung mengamati hal-hal unik di sana. Berikut catatannya.
Perbedaan waktu salat menjadi sesuatu yang mencolok bagi warga di Indonesia, khususnya warga Jawa yang di Malaysia. Di negeri berbentuk kerajaan ini waktu Subuhnya baru masuk pada pukul 06.15 dan memang jam segitu di sana masih gelap, Dhuhur pada pukul 13.30, sedangkan waktu Maghrib baru masuk pada pukul 19.30.
Seperti diketahui, waktu di Malaysia satu jam lebih awal dibandingkan waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Padahal, wilayah Malaysia yang berada di Semenanjung waktunya hampir mirip dengan Sumatera. Kebijakan politiklah yang membuat wilayah Malaysia dibuat satu waktu, baik untuk Malaysia yang di Borneo maupun Semenanjung. Jadilah mereka lebih dulu dibandingkan WIB.
Dari kacamata bisnis, Singapura dan Malaysia disebut lebih untung karena kantor bursa efeknya buka satu jam lebih awal dibandingkan Indonesia.
Satu yang mencolok lainnya adalah keberadaan pengemis dan pengasong. Di sela-sela kegiatan resmi, oleh biro perjalanan kami dibawa ke sejumlah tempat wisata meski dalam tempo waktu yang sangat terbatas.
Di Twin Tower Petronas misalnya, yang saya perhatikan atau cari-cari justru pengemis dan pengasong. Sampai kami beranjak ke tempat lain, tidak ada satu pun dua profesi itu saya temukan. Begitu pula saat kami Masjid Negara, bangunan Sultan Abdul Shomad di titik nol Kuala Lumpur, maupun saat di Batu Caves, tempat dibangunnya patung Dewa Murugan.
“Di sini pengemis harus dapat izin,” kata Syafiq, tour guide kami.
Izin itu atas dasar kemanusiaan. Misalnya karena disabilitas. Di luar itu tidak boleh dan sanksi pemerintah tegas. Begitu juga dengan pengasong. Mereka harus dapat izin resmi.





