BETANEWS.ID, SUKOHARJO – Makam yang berada di bangunan khusus di kompleks Petilasan Hastana Keraton Kartasura itu terlihat mencolok. Pusara itu tampak spesial dengan kain penutup berwarna putih menghiasi sisi-sisi makam. Racikan bunga setaman juga selalu hadir dan membuat makam senatiasa harum.
Di tempat itulah Bendara Raden Ayu (B.Ray.) Sedah Mirah dikebumikan. Ia merupakan priyantun dalem atau selir dari Sri Susuhunan Paku Buwana IX.
“Nama kecilnya beliau adalah Raden Ayu Mayangsari. Setelah beliau diangkat menjadi Adipati kemudian diangkat menjadi selir Paku Buwana IX maka beliau diberi gelar atau nama Sedah Mirah,” tutur Juru Kunci Keraton Kartasura Mas Ngabei (MNNg) Suryo Hastono Hadi Projonagoro.
Baca juga: Sejarah Tradisi Sadranan di Petilasan Keraton Kartasura
“Seorang wanita yang diberi gelar Adipati itu setingkat dengan kepatih dalem. Dia itu dulu adalah merupakan kepala rumah tangga kerajaan,” ungkapnya.
B.Ray. Sedah Mirah dimakamkan di Hastana Keraton Kartasura pada tahun 1826 di pemakaman yang khusus merupakan makam sentono dalem atau kerabat Keraton. Sedangkan, makam kawasan petilasan Kartasura mulai difungsikan sebagai makam sekitar 1816.
“Jadi makam Hastana Keraton Kartasura adalah makam untuk sentono dan keluarga raja dan masyarakat sekitar wilayah Kartasura, sebagai penandanya adalah dengan dimakamkannya B.Ray. Sedah Mirah,” terangnya.
Terdapat beberapa versi wafatnya B.Ray. Sedah Mirah. Beberapa sumber mengatakan bahwa dia tutup usia di umur 52 tahun. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa wafat pada usia 82 tahun.
Baca juga: Warga Sukoharjo Berebut 1.000 Dawet dan 19 Tumpeng di Grebeg Sadranan 2023
Makam B.Ray. Sedah Mirah memiliki ciri-ciri dilapisi dengan batu marmer terbaik dari Italia. Makam juga dibangun lebih tinggi dibandingkan dengan makam-makam yang ada di sekitarnya dan dihiasi dengan hiasan yang spesial.
“Karena ini adalah suatu penghargaan kepada seseorang yang berjasa besar terhadap negara, terlebih wanita yang mempunyai jasa terbesar itu diberikan pangkat Adipati,” ungkapnya.
Hingga saat ini, makam B.Ray. Sedah Mirah masih menjadi magnet bagi pengunjung yang ingin berwisata religi di Petilasan Hastana Keraton Kartasura. Pengunjung berasal dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan ada yang dari luar negeri.
“Ada yang pengen nyekar di makan beliau (B.Ray. Sedah Mirah), atau juga pengen mengetahui Petilasan Keraton Kartasura ini,” katanya.
Apalagi pada saat menjelang bulan Ramadan, khususnya dalam tradisi Jawa terdapat kegiatan Nyadran atau Sadranan yang dilaksanakan setiap bulan Ruwah atau Sya’ban dalam kalender Hijriah.
Baca juga: Tradisi Nyadran, Upaya Mengingat Leluhur di Bulan Ruwah yang Ada Sejak Zaman Majapahit
“Paling ramai itu adalah saat Ruwah itu sama Syawal. Syawal sampai seminggu ke depan itu banyak orang yang datang untuk berziarah di sini, tapi setiap hari juga ada di sini tidak banyak,” katanya.
Meski dulunya Makam Hastana Kartasura sempat juga digunakan untuk pemakaman masyarakat sekitar, namun saat ini sudah tidak diperbolehkan lagi. Sebab, saat ini kawasan tersebut sudah tercatat sebagai cagar budaya.
“Dengan adanya undang-undang nomor 11 tahun 2010 bahwa Petilasan Keraton Kartosuro adalah digunakan untuk cagar budaya, dan digunakan untuk kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti misalnya Nyadran ini,” kata dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

