Penurunan Angka Stunting di Kudus Akan Dilakukan dari Hulu Hingga Hilir

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus tahun 2023 berkomitmen untuk terus menurunkan angka stunting. Penanganan angka stunting di Kudus akan dilakukan dari hulu hingga hilir.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus yakni Nuryanto mengatakan, dalam penanganan stunting, pihaknya ada program intervensi spesifik. Program tersebut untuk menangani permasalahan penurunan angka stunting dari hulu sampai hilir.

“Dengan program tersebut, diharapkan mampu menekan angka stunting di Kudus. Sehingga di tahun 2024 nanti, angka stunting di Kudus bisa sesuai yang diagendakan, yakni 14 persen,” ujar Nuryanto ketika dihubungi melalui telepon, Selasa (21/2/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Cegah Stunting, Mawar Hartopo Ajak Remaja di Kudus Rajin Konsumsi Tablet Tambah Darah

Nuryanto mengungkapkan, penanganan stunting dari hulu, pihaknya akan melakukan skrining hemoglobin kepada anak-anak perempuan usia Sekolah Menengah Atas (SMA). Serta pemberian tablet tambah darah.

“Tak hanya itu, perempuan calon pengantin juga kita skrining tripel eliminasi. Hal itu untuk kesiapan melaksanakan pernikahan dan juga reproduksi,” jelasnya.

Setelah itu, kata dia, skrining di ranah kehamilan. Sebab, di masa kehamilan adalah seribu pertama kehidupan. Sehingga mulai pertemuan sel sperma dan sel ovum itu sampai nanti anak usia dua tahun, ibu hamil wajib memeriksakan diri anteatal care (ANC) minimal enam kali dalam masa kehamilannya.

“Tak hanya itu, asupan gizi terutama protein terutama hewani yang tinggi harus dikonsumsi kepada ibu hamil. Sebab, pembentukan sel otak itu pada bayi usia 0 sampai dua tahun ini, sangat dominan,” ungkapnya.

Menurutnya, pembentukan otak itu kontribusinya 80 persen di usia seribu pertama kehidupan. Sementara, usia dua tahun sampai lima tahun, kontribusi pembentukan otaknya hanya 20 persen.

“Oleh karenanya di usia itu kita kuatkan. Jadi protein itu sangat penting bagi ibu hamil,” imbuhnya.

Kemudian, proses persalinan juga harus ditangani oleh bidan. Untuk nifasnya, bidan desa juga harus mengontrol setiap hari sampai nifasnya selesai, 40 hari. Pihaknya juga mengawal para ibu yang sudah melahirkan agar tetap bisa memberikan ASI eksklusif. Jadi, usia 0 sampai 6 bulan, ibu harus memberikan ASI kepada bayinya.

“Kami juga menggandeng perusahaan dan bank di Kudus untuk ikut penanganan stunting. Kemarin juga ada CSR dari beberapa perusahaan dan bank itu sudah memberikan PMT atau makanan tambahan kepada anak-anak yang stunting,” imbuhnya.

Dia pun menggalakkan agar setiap puskesmas di Kudus bisa melaksanakan aksi cegah stunting. Saat ini, tuturnya, sudah ada puskesmas percontohan, yakni di Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan.

Baca juga: Angka Stunting di Kudus Naik Jadi 19 Persen, Pemkab Langsung Gelar Penimbangan Balita Serentak

“Penimbangan serentak sudah dijalankan. Di bulan yang sama Pokjanal Posyandu Kudus juga sudah dikuatkan dan dicanangkan oleh Ibu Mawar Hartopo sebagai upaya penurunan stunting di Kudus,” imbuhnya.

Dia mengatakan, bahwa penanganan stunting di Kudus dengan program intervensi spesifik cukup maksimal. Tinggal intervensi sensitifnya, untuk menggerakan lintas sektoral dalam penanganan stunting.

“Saat ini angka stunting di Kudus sekitar 19 persen. Target kami sesuai Nasional, tahun 2024 angka stunting di Kudus bisa turun jadi 14 persen,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER