Fatiyah Tak Keberatan Ada Pedagang Baru di Car Free Night, Tapi . . .

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Sejumlah kendaraan tampak melaju di Jalan dr Ramelan selatan Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus. Jalur tersebut terlihat terbagi menjadi dua lajur, untuk mobil dan motor. Jalur lambat yang berada di Jalan dr Ramelan akan ditempati para pedagang pada kegiatan Car Free Night (CFN) malam ini.

Pedagang di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Pedagang di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Munculnya PKL di CFN nanti tentu mengundang reaksi dari para PKL yang sudah lama berdagang di sekitar Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Di antaranya Fatiyah (44), dia yang sudah berdagang 13 tahun di sudut barat laut Alun-alun Kudus. Dia mengaku tidak masalah jika ada pedagang baru saat CFN.

Baca juga: Jangan Lupa, Besok Malam Ada Pembukaan Car Free Night di Simpang Tujuh

-Advertisement-

Namun, dia meminta agar pedagang CFN tidak masuk wilayah wilayah di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus. “Ya tidak masalah. Lha wong sama-sama cari rezeki. Namun ya jangan masuk kawasan alun-alun,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Menurutnya PKL yang hanya untuk CFN hanya boleh berdagang di tempat yang sudah ditentukan yakni jalur lambat Jalan dr Ramelan. Jika nantinya PKL CFN juga ikut berdagang di sekitar Simpang Tujuh tentu akan merugikan para PKL yang sudah bertahun-tahun berdagang.

“Saya sangat mendukung adanya Car Free Night. Namun ya mohon ditata pedagangnya. Jangan sampai merugikan kami,” tambahnya yang berjualan nasi.

Sama dengan Fatiyah, Cak Din, begitu dia biasa dipanggil, juga mendukung kegiatan CFN. Namun dia meminta agar pedagang CFN tidak masuk kawasan alun-Alun. Dia khawatir warung mi ayam dan bakso yang dikelolanya omzetnya akan menurun. “Kalau PKL ke sini (alun-alun) repot kita,” tuturnya sambil duduk di depan warung bawah baliho.

Menurutnya, warung-warung yang sudah ada Alun-alun Kudus tidak mungkin dipindah di Jalan dr Ramelan. Karena nantinya pasti akan kesulitan untuk mendapatkan air dan saluran listrik. Selain itu tidak mungkin pedagang warung seperti dirinya harus berpindah-pindah. “Kalau pedagang Car Free Night kan sama seperti Car Free Day. Tidak terlalu membawa perlengkapan banyak. Kalau saya pasti susah,” tambahnya.

Cak Din menjelaskan, selama berdagang di sekitar Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus dirinya membayar restribusi Rp 2.500 per malam. Menurutnya, restribusi tersebut sudah termasuk iuran dinas, desa dan sampah. Namun ada juga PKL yang membayar Rp 1.500. Tergantung jenis dagangan yang dijual. “Saya sudah mulai berjualan pukul 16.00 WIB. Biasanya sampai 21.00 WIB,” ungkapnya.

Sementara itu Kabid Pedagang Kaki Lima (PKL) Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sofyan Dhuri menuturkan, sejauh ini ada 320 PKL yang akan berdagang di CFN. Menurutnya, PKL akan menempati Jalur Lambat di Jalan dr Ramelan.

“Yang nanti dipakai untuk dagang hanya Jalur Lambat Jalan dr Ramelan saja. Jalan Ahmad Yani tidak. Kalau Jalan Sunan Kudus sampai Pekojan rencana dibuat parkir,” terangnya.

Selama ada CFN, PKL yang ada di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus akan berjualan seperti biasanya. Menurutnya, ada 63 PKL yang selama ini berdagang di Alun-alun. Dirinya berharap, PKL yang menempati CFN bisa menjaga kebersihan. “Kami sudah ada Satgas PKL. Nanti mereka yang akan memantau,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER