BETANEWS.ID, KUDUS – Tak banyak orang telaten menekuni usaha tenun mulai dari nol, termasuk membuat pola hingga menjadi kain tenun yang biasa dijumpai di toko pakaian maupun mall. Hal tersebut, karena tenun membutuhkan proses yang begitu panjang dan ribet. Kebanyakan dari mereka, mengambil bahan yang siap dibuat menjadi pakaian.
Tahapan proses pembuatan tenun ada banyak, sehingga sedikit orang yang bisa menekuni usaha tenun dari nol. Seperti halnya dengan Hadlirotul Qudsiyah (53), yang menekuni kerajinan tenun dari umur 9 tahun saat dirinya masih mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar (SD). Itu dilakukannya karena ia merasa iri dengan teman seusianya yang mempunyai barang-barang bagus.
Lantaran saat itu ia berasal dari keluarga yang biasa saja dan orang tuanya tidak mampu membelikan barang-barang seperti halnya yang dipakai temannya, sehingga ketika usia 9 tahun ia sudah bekerja dengan saudaranya agar bisa memenuhi keinginannya.

Baca juga: Kain Tenun Troso Pakai Pewarna Alami yang Terlihat Elegan nan Mewah
“Dulu perjuangannya pedih mas, itu berawal karena saya kepengen seperti teman-teman yang mempunyai barang bagus. Karena ayah saya tidak bisa membelikan, mau tidak mau saya bekerja sejak dini demi untuk memenuhi keinginan saya pada waktu itu,” beber Hadlirotul kepada Betanews.id, Senin (16/1/2023).
Sembari membeli barang-barang keinginannya dari hasil kerja sebagai kuli tenun itu, kata Hadlirotul, ia juga menyisipkan uangnya untuk menabung guna merintis usaha tenun sendiri. Berselang 6 tahun, tepatnya saat dirinya menginjak umur 15 tahun, ia mulai merintis usaha tenun yang saat itu memiliki satu karyawan.
“Pada waktu merintis usaha itu saya masih sekolah Aliyah kelas dua, tahunnya sekitar 1980. Modalnya ya dari uang tabungan saya selama bekerja jadi kuli sebelumnya,” tutur warga Desa Glagahwaru RT 2 RW 5, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus tersebut.
“Saya mengenal tenun karena saya asli orang Troso yang memiliki saudara dengan usaha tenun. Dari situ saya belajar semua tahapan tenun mulai dari awal hingga menjadi kain tenun,” ucapnya.
Baca juga: Kain Troso di Abadi Tenun Troso Ini Punya Banyak Motif Ciamik
Kemudian sampai menikah di tahun 1992, lanjutnya, ia memiliki 4 alat tenun yang semakin dikenal. Kemudian pada tahun 2000 ia dan suaminya pindah dari Troso ke Desa Glagahwaru dan bertahan hingga sekarang. Pemasarannya saat ini juga semakin berkembang, bahkan produk yang dibuatnya itu diekspor ke luar negeri, termasuk Saudi Arabia.
“Alhamdulillah sampai saat ini hasil dari tenun bisa untuk menguliahkan tiga anak mas, kebutuhan sehari-hari, dan bisa untuk membeli barang-barang seperti orang lain,” jelasnya.
Editor: Kholistiono

