BETANEWS.ID, SEMARANG – Pameran lukisan yang mengangkat tema Desa Eksotik Lempongsari digelar di Kelurahan Lempngsari, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Pameran tersebut menyajikan 40 lukisan yang menceritakan tentang perkembangan Kelurahan Lempongsari.
Pelukis sekaligus penggagas pameran, Andreas Subarjo (74) mengatakan, ia melukis sejarah Kampung Lempongsari ini sudah 3 tahun yang lalu. Hanya saja baru bisa dipamerkan tahun ini.
Baca juga: Jumpai Bobroknya Layanan di Instansi Pemerintahan, Solichin Kritik Lewat Lukisan Berjudul ‘PNS’
“Melukisnya sudah 3 tahun yang lalu, tapi karena pandemi akhirnya baru bisa dipamerkan ya sekarang ini,” katanya.
Karena lukisannya mengenai sejarah, Andreas menyebut, untuk mendapatkan informasi serta gambaran tentang suasana Lempongsari di masa lampau, ia mendapatkannya melalui spiritual.
“Kebetulan saya mempunyai keahlian, jadi untuk informasinya saya dapat lewat spiritual. Jadi saya berkomunikasi dengan penunggu Lempongsari, kemudian setelah diceritakan, saya mencoba menceritakan kembali lewat lukisan. Jadi memang tidak hanya melukis sejarah seperti ini, saya juga sering melukis makhluk-makhluk gaib,” akunya.
“Penunggu yang saya ajak komunikasi itu merupakan pribumi yang hidup di zaman penjajahan Belanda. perawakannya tinggi dan kurus, terus dia memakai baju kaos biasa dan jarik batik,” katanya.
Ia pun mengaku, untuk mendapatkan informasi secara spiritual, tidak ada ritual sama sekali.
Andreas pun menerangkan, Lempongsari merupakan pemukiman tengah kota yang sangat eksotik. Karena memiliki tatanan jalan yang unik dan pepohonan yang hijau di setiap sudutnya.
Baca juga: Di Tangan Eko, Sampah Plastik Diubah Jadi Lukisan Kolase yang Ciamik
“Lempongsari itu pemukimannya sangat eksotik, berbeda dengan perkampungan yang ada di Semarang, karena setiap rumah ada pohonnya jadi hijau. Jalanya juga unik berlenggak-lenggok, bahkan ada jalanan di sini yang punya tanjakan 75 derajat,” katanya.
Karya unik Andreas ini pun mendapatkan piagam penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia atas rekor prakasa dan penyelenggara pameran lukisan terbanyak jejak sejarah kampung.
“Pameran ini sudah digelar dari tanggal 3-8 Desember, dan hari terakhir ini saya menerima piagam penghargaan Musuem Rekor Dunia Indonesia,” tutupnya.
Editor: Kholistiono

