BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang siang, cuaca di sepanjang Jalan Raya Kudus -Jepara, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak mendung. Meskipun begitu, tidak membuat sepasang suami istri itu lekas mengemasi dagangannya. Pemilik stan bertuliskan nasi ayam bakar itu bernama Ali Mahfudh (44) atau akrab disapa Kang Ifud. Di tengah kesibukannya, ia menceritakan pada Betanews.id, awal mula dirinya menjual nasi bakar ayam kemangi.
Ia mengatakan, memulai bisnis kuliner sejak 2019. Ide itu, bermula saat Ifud pergi ke Alun-alun Kudus pada acara car free day dan mencari inspirasi membuka usaha. Melihat belum ada penjual nasi bakar, ia kemudian mengajak istrinya untuk membuat menu makanan yang dibungkus daun pisang itu.

Baca juga: Nikmatnya Nasi Bakar Ayam Kemangi Kang Ifud, Setiap Hari Ratusan Porsi Ludes
“Untuk resep makanan itu dari kreasi sendiri. Sebenarnya istri saya kan suka masak, jadi pas lihat TikTok itu terus dipraktikkan,” kata pria yang tinggal di Jetak Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus.
Berkat idenya itu, kini stan gerobak Ifud tidak pernah sepi dari pembeli. Menurutnya kebanyakan pembelinya adalah kalangan pekerja pabrik Jepara yang sedang mencari sarapan. Bahkan dalam sehari, ia bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan porsi setiap harinya.
“Pelanggannya kebanyakan pekerja pabrik sepatu, kabel di Jepara, dan Djarum juga. Masih sekitar Kudus dan Jepara,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Ifud juga sering mendapatkan orderan nasi bakar ayam kemangi untuk acara tertentu, seperti kumpulan arisan, hajatan, sunatan, dan lain-lain. Ia menerangkan, jika ingin memesan nasi bakar ayam kemangi yang dijual Rp 5 ribu itu, dapat menghubungi nomor WhatsApp 082323823146.
“Biasanya dipesan untuk acara ibu-ibu, hajatan, kumpulan, sunatan, itu bisa sampai 150 porsi,” jelasnya.
Baca juga: Bandeng Bakar Tanpa Duri Khas Madura di Jepara Ini, Enaknya Bikin Bikin Nagih
Ifud menerangkan, saat Covid-19 melanda, ia bahkan sempat terpaksa tutup selama tiga bulan. Ia kemudian menutup lebih awal stan gerobaknya dan memilih jualan di rumah.
“Kemarin waktu Covid-19 memang terdampak sekali, pendapatan menurun. Jadi saat itu saya tutup pukul 10.00 padahal biasanya 12.00, karena khawatir kena razia tidak boleh ada kerumunan. Bahkan dulu sempat tutup selama tiga bulan. Solusinya dulu buka di rumah dan sambil jualan sosis,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

