Cerita Sutup, Lulusan SMP yang Kini Sukses Usaha Piala Kayu dan Batu Paras Ukir

BETANEWS.ID, KUDUS – Slamet Sukamto (37) tampak telaten membentuk pola bergambar notasi nada di atas papan kayu jati di bengkelnya yang berada di Desa Undaaan Lor Gang 5 RT 5 RW 1 Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Setelah itu, ia tampak memahatnya hingga menjadi bentuk yang diinginkan. Piala setengah jadi itu lantas diambil oleh pria lain untuk dihaluskan dengan mesin sampai jadi.

Di sela-sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Sutup itu bersedia menjelaskan awal mula dirinya terjun ke dunia seni ukir. Ia mengatakan, belajar ukir sejak lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sutup yang saat itu berhenti sekolah, lalu pergi ke Jepara untuk mendalami keahliannya.

Piala kayu produksi Sutup yang pelangganya dari berbagai wilayah di Indonesia. Foto: Sekarwati

“Saya belajar seni ukir itu di Jepara, setelah lulus dari SMP saya ikut kerja orang dan buat ukir gebyok kayu jati. Saya pas sekolah sering ikut lomba juga seni dan sering menang,” katanya saat ditemui,Rabu (23/11/2022).

-Advertisement-

Baca juga: Piala Kayu Karya Warga Undaan Lor Ini Pemasarannya Sudah ke Seluruh Pulau di Indonesia

Setelah belajar di jepara, Ia lantas merintis usaha sendiri dengan membuat patung kayu. Akan tetapi, usahanya itu sempat berhenti lantaran penilaian buruk dari tetangganya. Ia kemudian memutuskan untuk berhenti membuat patung dan memilih meneruskan mengerjakan piala kayu dan batu paras ukir.

“Pertama saya buat patung sekitar tahun 2015, tapi nggak enak sama tetangga karena sering ditegur. Terus saya milih yang piala kayu saja,” imbuhnya.

Sutup menerangkan, pertama kali mendapatkan garapan piala kayu ketika diajak kerja sama dengan temannya. Meskipun sempat terkena tipu lantaran tidak dibayar temannya, kemalangan itu mengantarkan Sutup kenal dengan panitia Opus Nasional dan mendatangkan rezeki hingga sekarang.

Piala kayu yang digarap Sutup untuk ajang perlombaan musik nasional Opus Nasional, yakni cabang lomba piano dan biola atau violin. Ia menjelaskan dengan mengerahkan tenaga 4-5 orang, dapat menghasilkan 200-600 piala. Sedangkan untuk per piala kayu ia jual dengan harga Rp112 ribu.

Baca juga: Terkenal Awet Serta Mewah, Batu Paras Ukir Makin Berkibar

Sutup berharap, seni ukir di Kudus dapat dilirik oleh pejabat pemerintahan. Terlebih untuk membantu mempromosikan dan memulihkan kembali perekonomian oleh seniman ukir setelah terdampak Covid-19.

“Harapan saya pemerintah bisa lebih perhatian lagi dengan seni, terlebih seni ukir. Karena semenjak pandemi teman-teman saya banyak terdampak itu. Minimal dibantu untuk mempromosikan kembali,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER