Kisah Salamah, Kader Kesehatan di Kebumen yang Abdikan 35 Tahun Hidupnya untuk Tangani Stunting

BETANEWS.ID, KEBUMEN – Suasana Puskesmas Kebumen II yang tenang mendadak ramai saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tiba, Selasa (15/11/2022). Kedatangannya untuk meninjau program penanganan stunting itu disambut meriah oleh orang-orang yang ada di sana, termasuk Salamah.

Salamah merupakan kader kesehatan di Desa Kalirejo, Kecamatan Kebumen yang telah mengabdi sejak 1987. Mendengar cerita itu, Ganjar langsung mengetes pengalaman Salamah yang mengaku jadi kader sejak belum menikah. Mantan anggota DPR RI itu bahkan sempat praktek jadi keluarga ibu hamil beresiko.

Ganjar Pranowo menemui Salamah, Kader Kesehatan Desa Kalirejo, Kecamatan Kebumen yang telah mengabdi sejak 1987. Foto: Ist

“Bu Salamah itu keren, saya itu setiap masuk ke kampung pasti nemu saja. Apresiasi saya sama bu Salamah itu satu, sejak 1987 menjadi kader kesehatan tidak pernah putus,“ kata Ganjar.

-Advertisement-

Baca juga: Ganjar Sebut 20 Persen Bumil di Jateng Anaknya Terancam Stunting

Di depan Ganjar, Salamah mampu menjabarkan dengan lugas apa saja yang menjadi tugasnya sebagai kader kesehatan di desa. Selain menyuluh ibu hamil, Salamah juga rutin mengecek kesehatan mereka.

“Maka sebenarnya talenta yang dimiliki dengan keikhlasan hati sebagai seorang volunteer relawan menurut saya hebat,” puji Ganjar.

Ganjar juga mengatakan, kader kesehatan seperti Salamah ini contoh yang baik. Sebagak kader, seseorang harus punya reflek atau respon cepat ketika ditanya penanganan kasus atau data di wilayah kerjanya.

“(Salamah) mengerti persis sehingga hampir pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan sangat cepat, refleknya jalan. Maka dia mengerti (ada) 22 orang yang hamil terus kemudian ada 14 yang stunting dan sebagainya,” katanya.

Keberadaan kader kesehatan seperti Salamah, kata Ganjar, membantu peran pemerintah dalam mengatasi masalah stunting. Apalagi jika keuletan kader juga didukung oleh pemerintah di level desa.

“Rata-rata ibu-ibu yang semacam ini pengetahuan, pemahamannya sangat luar biasa, karena dia sangat dekat sekali jaraknya dengan mereka (masyarakat), hidupnya di sekitar mereka. Ini orang-orang yang mesti diapresiasi,” ujar Ganjar.

Tak hanya Salamah, di Puskesmas Kebumen II tersebut Ganjar juga mengapresiasi program penanganan stunting berupa olahan makanan. Diberi nama Mi Kriting. Program ini lah yang didukung oleh dana desa setempat.

Baca juga: 2.468 Anak di Kudus Alami Stunting, DKK Kudus Upayakan Tak Ada Tambahan Kasus

“Makanan diolah diberikan sehari duakali selama tiga bulan dan dievaluasi. Sehingga mereka yang perkembangannya melambat itu langsung dikasih treatment dan ditungguin,” ujarnya.

Ketua Pembina TP PKK Jateng itu mengatakan, bukan tidak mungkin target Presiden Joko Widodo dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia dapat tercapai. Jika kader kesehatannya bisa seperti Salamah.

Jawa Tengah menargetkan angka stunting menjadi 14 persen pada 2023. Untuk mencapai kondisi tersebut, Pemprov Jateng dan BKKBN membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang tersebar di 35 kabupaten/kota, 576 kecamatan, dan 8.562 desa/ kelurahan.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER