BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat ada 2.468 anak yang mengalami stunting. Jumlah itu meski terus menurun tapi jumlahnya masih besar. Makanya, DKK akan terus berupaya untuk menihilkan adanya kasus baru
Sub koordinator Kesga Gizi pada DKK Kudus Muslimah menyampaikan, Sebagian besar kasus stunting di Kudus karena pola asuh yang salah. Menurutnya, masih banyak orang tua yang tidak memperhatikan kandungan gizi saat memberikan makan pada anak.
Menurutnya, hampir tak ada orang tua di Kudus yang tidak mampu beli makan untuk anaknya. Namun, kenyataannya, mampu beli makan belum tentu bisa masak karena sibuk bekerja. Padahal idealnya, mereka bisa masak dulu untuk kemudian diberikan kepada pengasuh.
Baca juga: Ganjar Sebut 20 Persen Bumil di Jateng Anaknya Terancam Stunting
“Tapi, banyak yang memberikan uang untuk beli makan, sehingga oleh pengasuh dibelikan menu-menu yang tidak seimbang gizinya. Ini berdasarkan survei di lapangan,” ungkapnya.
Muslimah menyebut, angka 2.468 kasus itu termasuk rendah secara nasional karena hanya di angka 4,2 persen. Namun, pihaknya tidak boleh melihat persentase, melainkan melihat angka ribuan kasus yang harus dipangkas.
Demi meniadakan kasus stunting, Muslimah berpesan kepada para wanita untuk memperhatikan kesehatan reproduksi sejak remaja, pastikan tidak anemia, tidak menikah dini, dan usahakan hamil di atas 20 tahun.
Baca juga: Di Hadapan IDI Kudus, Hartopo Sebut Banyak Orang Pinggiran yang Tak Tersentuh Program Stunting
“Jadi pernikahan itu dipersiapkan dari remaja, hamil direncanakan, pastikan anak diimunisasi, pemberian makan anak, bawa ke posyandu untuk memastikan berat badan dan tinggi badannya terpantau,” pesannya.
Dengan berbagai bentuk pencegahan ini, Ia berharap kasus stunting yang telah menurun itu semakin mengalami perubahan yang baik dan tidak mengalami kelonjakan kembali.
“Harapan kami semakin menurun jangan sampai ada stunting baru. Ini yang kita tekankan. Jadi yang sudah ada kita entaskan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

