Asap putih tampak mengepul dari sejumlah cerobong di Asap Indah, Desa Wonosari, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, beberapa waktu lalu. Ini tandanya, sentra pembuatan ikan asap di Jawa Tengah (Jateng) ini masih produksi. Bahkan, dalam sehari produksinya mencapai 25 ton ikan dengan nilai Rp 500 juta.

Saat Tim Beta Explore datang ke sentra produksi ikan asap itu beberapa waktu lalu, ratusan orang tampak sibuk mengolah ikan yang baru diturunkan dari mobil boks. Saat di sana, Tim Beta Explore diterima Tejo Purwoto (50), Ketua Kelompok Koperasi Serba Usaha Asap Indah (KKSUAI).
Sambil menemani berkeliling di Asap Indah, Tejo menjelaskan sejarah dan proses produksi ikan asap. Dia menjelaskan, Asap Indah dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi. Pembangunan sentra pengasapan ikan di desanya itu, berawal dari ide Juyamin, warga setempat, pada tahun 2011.
Baca juga: Produk Ikan di Asap Indah Demak Dijual Hingga ke Belanda dan Turki
“Dulu sebelum ada Asap Indah, warga membuat ikan asap di rumah-rumah. Banyak anak-anak di sini yang kena ispa. Makanya dipindah di sini, hingga sekarang sudah berlangsung sekitar 11 tahun,” jelasnya.
Asap Indah, kata Tejo, memiliki 76 ruko dengan jumlah keseluruhan pekerja 386 orang. Menurutnya, semua pekerja di Asap Indah merupakan warga Desa Wonosari. Asap Indah memberikan kontribusi yang besar pada perekonomian warga setempat.

“Pekerja ada laki-laki 191 orang dan perempuan 195 orang. Jumlah tersebut belum termasuk reseller, tukang parkir, kuli yang bagian dorong ikan. Asap Indah ini UMKM tapi serapan tenaga kerjanya bisa sekelas pabrik. Yang kerja di sini sehari bisa dapat Rp 80 ribu perhari, dapat makan dan pulang bawa lauk,” terangnya.
Tejo menjelaskan, dalam sehari Asap Indah memproduksi sekitar 25 ton ikan dalam sehari. Dan omzet yang dihasilkan dari sentra pengasapan ikan di sana mencapai Rp 500 juta dalam sehari.
Besarnya angka ikan yang diolah dan omzet yang dihasilkan, kata Tejo, menjadikan Asap Indah menjadi sentra pengasapan ikan terbesar di Jawa Tengah.
Baca juga: Lulus Kuliah Angga Langsung Terjun di Bisnis Pengolahan Ikan Asap
Ketika dua tahun dilanda pandemi Covid-19, Tejo mengaku, bahwa Asap Indah tidak begitu terdampak. Pihaknya masih memproduksi ikan asap seperti biasanya.

“Kalau yang lain bisa mengalami penurunan hingga 50 persen, kami paling hanya 2 persen. Kami masih bisa produksi seperti biasa,” beber Tejo.
Untuk pengasapan, kata Tejo, dulu para pembuat ikan asap menggunakan batok kelapa, namun kini berganti tongkol jagung. Kata Tejo, pergantian tersebut karena batok kelapa sulit didapat dan harganya mahal. Untuk mencukupi kebutuhan 76 pengasap di sana, sehari bisa menghabiskan sekitar lima truk tongkol jagung.
Melihat besarnya potensi Asap Indah, Tejo menilai pemerintah daerah kurang memberikan apresiasi. Pihaknya berharap, pemerintah ikut serta memikirkan pengolahan limbah agar lebih ramah lingkungan.
“Pemerintah setidaknya perhatian dengan memberikan fasilitas yang ramah lingkungan, jangan kami yang memikirkan terus. Asap kita itu asap berat, karena ada makanan yang diasap dalam keadaan basah pasti itu akan berat jadi tidak bisa langsung naik ke atas,” katanya.
Editor: Suwoko




