BETANEWS.ID, KLATEN – Sebuah kotak warna biru gelap terlihat di sebuah rumah di Dukuh Salak RT 02, RW 11, Desa Kurung, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Di dekat kotak tersebut, tampak beberapa orang sedang duduk di bangku sambil membawa gawai mereka. Rupanya, orang-orang tersebut sedang memanfaatkan fasilitas internet koin yang disediakan oleh Soufi Assegaf (25).
Untuk menggunakan internet tersebut, warga tinggal memasukkan koin Rp500 untuk waktu 30 menit. Jika ingin menambah, mereka bisa memasukkan koin kembali.

Soufi menceritakan, alasannya memasang internet koin sejak awal 2022 itu karena resah kampungnya masih belum terjangkau jaringan internet. Apalagi, saat pandemi Covid-19, banyak anak-anak yang harus mengikuti pembelajaran daring danmereka kesulitan mengakses internet.
Baca juga: Kisah Pengamen Angklung di Magelang yang Bertahan Hidup dengan Musik
Sebelum memasang internet koin tersebut, Soufi mengaku mencari tutorial pemasangan alat itu di YouTube. Kemudian, ia mencari alat-alat yang dibutuhkan dengan modal awal Rp3 jutaan.
“Jadi browsing dulu di internet dan cari tutorial di YouTube. Setelah banyak referensi dan dihitung-hitung biayanya, akhirnya saya beli alatnya secara online dari Bali. saya beli itu Rp3 juta lebih,” bebernya, Selasa (28/6/2022).
Secara rinci Soufi menjelaskan, alat itu berbentuk kotak dengan ukuran sekitar 40 x 30 sentimeter dengan ketebalan sekitar 25 sentimeter. Pada boks tersebut sudah terdapat koin aseptor yang dapat mendeteksi koin yang dimasukkan.
“Alatnya tidak terlalu besar. Orang tua pasti akan tahu cara kerja telepon umum koin. Jadi modelnya seperti itu,” katanya.
Sebelum memasukkan koin, pelanggan harus menyambungkan ponselnya ke jaringan wifi. Setelah itu, akan muncul laman login dan pengguna harus memasukkan koin ke dalam mesin sesuai intruksi yang ada di laman tersebut.
“Kalau sudah pencet selesai. Nanti otomatis warga bisa menikmati layanan internet. Kalau ada yang bingung kita pandu,” imbuhnya.
Baca juga: Kisah Taufiq Rintis Usaha Baki Lamaran Sejak SMA hingga Mampu Biayai Kuliah Sampai S2
Adapun uang yang dapat digunakan dalam mesin tersebut adalah uang logam Rp500 berwarna silver. Dengan uang Rp500 itu, pengguna dapat menikmati jaringan internet selama durasi 30 menit dengan kecepatan 3 Megabyte per second untuk upload dan download. Wifi di rumahnya bisa dijangkau hingga radiius 20 meter.
Menurutnya, setelah ada alat tersebut, rumahnya sangat ramai didatangi warga untuk internetan. Rata-rata setiap hari ada sekitar 20 pengguna dan makin banyak saat malam minggu atau malam hari libur yang mencapai 30an orang.
“Pas ramai itu kalau malam. Abis salat isya sampai tengah malam. Yang makai mayoritas anak-anak tapi orang tua juga ada, biasanya buat streaming YouTube,” katanya.
Apalagi pada saat anak-anak seekolah harus mengikuti pembelajaran secara jarak jauh, banyak siswa di lingkungannya yang mengakses tugas mereka dengan memanfaatkan jaringan internet koin miliknya.
“Pernah ada yang memakai sampai 5 jam. Jadi tercatat secara otomatis. Saya sempat tanya kenapa pakai internet koin, karena kalau pakai data di HP itu boros katanya,” ujarnya.
Setiap bulan, Soufi biasanya mengisi kuota paket data sebesar Rp150 ribu dengan besaran 50 gigabyte. Dengan mesin tersebut, ia memperoleh Rp200 ribu per bulan. Namun, ia mengaku tidak mengambil banyak keuntungan dari mesin internet koin yang ia pasang.
“Para tetangga malah mendukung, malah ada yang minta jaraknya diperluas lagi. Saya tidak mengambil keuntungan yang banyak. Karena ini untuk warga yang membutuhkan, bentuk pengabdian saya juga di lingkungan warga,” tandas dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

