BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam rumah berlantai dua di Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus tampak beberapa lukisan beraliran realis berukuran cukup besar. Di sampingnya seorang pria sedang membersihkan lukisan tersebut. Pria itu yakni Solichin Kadar Muhammad, satu di antara pelukis ternama di Kudus yang karyanya pernah dibeli orang Mancanegara.
Pria yang akrab disapa Solichin itu pun sudi berbagi kisah tentang hidupnya. Dia mengatakan, mulai senang melukis sejak kecil. Ia duduk di bangku sekolah dasar (SD) sekira tahun 1977 dan ikut Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI). Serta mengikuti berbagai kejuaran melukis tingkat SD.
“Sewaktu di bangku SD itu aku sering ikut lomba. Mulai tingkat kecamatan hingga kabupaten selalu dapat juara,” ujar Solichin kepada Betanews.id, Sabtu (14/5/2022).

Baca juga : Mengenal Komunitas Perupa Kudus
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus itu menuturkan, setelah lulus kemudian lanjut ke SMP. Saat kelas satu SMP ia pun khitan dan dapat uang saku.
“Uang saku itu yang menyimpan orang tua ku. Karena saya ingin membeli peralatan lukis, uang itu pun saya ambil. Ternyata ayah saya tahu dan menanyakan uang itu, lalu saya jawab dengan jujur. Ayah saya pun tak mempermasalahkannya,” ungkapnya.
Di bangku SMP itu ia terus tetap melukis. Pernah ikut pameran, bahkan saat itu ia pernah jadi perbincangan atau istilah sekarang viral.
“Saat itu saya memamerkan lukisan berjudul bocah nakal, yaitu ada perempuan telanjang mandi di belik, kemudian ada anak kecil yang mencuri baju orang mandi itu. Lukisan itu saya merepro lukisan karya Basuki Abdullah,” beber ayah tiga anak tersebut.
Setelah lulus SMP, Solichin ingin berniat melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta. Namun, ayahnya tak setuju, sebab dianggap masih kecil. Kemudian, karena ingin jadi dokter, ia pun mencoba masuk ke SMA 1 Kudus, tapi dua kali ikut tes selalu gagal. Dia pun kemudian melanjutkan sekolah di SMEA 1 Kudus.
“Di SMEA Kudus ini saya juara kelas dan beberapa kali ikut kejuaran melukis selalu juara. Sehingga saya dapat beasiswa Supersemar, kala itu nilainya Rp 7 ribu per bulan,” terangnya.
Menurutnya, uang Rp 7 ribu per bulan saat itu sudah banyak, apalagi untuk ukuran pelajar. Dengan uang itu, ia pun makin giat melukis. Beli cat, kanvas dan kuas tak perlu minta kepada orang tua. Peralatan lukis yang dibelinya pun sudah yang untuk kelas profesional.
“Dengan uang beasiswa itu, hobi saya seolah terafiliasi. Saya pun makin rajin melukis dan bergabung dalam komunitas lukis profesional di Kudus,” tuturnya.
Setelah lulus, ia pun berniat ingin lanjut ke Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, tapi lagi-lagi ayahnya tidak mengizinkannya. Ayahnya beranggapan, profesi melukis tak bisa menjamin masa depan.
Tapi ia tetap kekeh ingin lanjut kuliah jurusan lukis. Karena saat itu ada saudara yang jadi PNS, kemudian ayahnya memberikan opsi, boleh kuliah jurusan seni rupa namun tidak di ISI, tapi di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta.
“Opsi tersebut, ayah saya berharap agar kelak saya bisa jadi guru, tidak hanya jadi pelukis saja. Saya pun menyanggupinya yang penting kuliah di jurusan seni rupa,” bebernya.
Baca juga : Melihat Cantiknya Lukisan-Lukisan Perupa Kudus di Resto Joglo Sawah
Sewaktu kuliah itu, Solichin beberapa kali ikut pameran di Yogyakarta. Bahkan karya lukisannya pernah dibeli turis warga negara Belanda dengan harga yang cukup fantastis saat itu.
“Selama ikut pameran pernah tiga kali lukisan saya dibeli turis. Semuanya warga negara Belanda. Ada yang dibeli Rp 45 juta, Rp 27 juta serta Rp 12 juta,” rincinya.
Setelah lulus kuliah, ia pun tetap melukis. Kini setelah berkeluarga dan punya tiga anak, melukis tetap ia lakukan dengan terkadang menerima job lain, semisal buat desain grafis dan lainnya. Bahkan saat ini, satu keluarganya bisa melukis semua.
“Sekarang, tidak hanya saya yang melukis. Istri dan tiga anak saya semuanya bisa melukis. Karyanya juga tidak kalah indah,” ucapnya bangga.
Editor : Kholistiono

