31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

Kirab Selikuran, Tradisi Keraton Solo Menyambut Malam Lailatul Qadar

BETANEWS.ID, SOLO – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar tradisi kirab selikuran pada malam ke-21 Ramadan, Jumat (22/4/2022). Tradisi kirab itu diikuti oleh para abdi dalem yang berjalan dari Kori Kamandungan menuju ke Masjid Agung Keraton Surakarta.

Dalam kirab yang dilaksanakan usai salat tarawih itu, mereka membawa lampu ting dan macam-macam lampion bertuliskan kaligrafi, lambang keraton, serta berbentuk bintang dan bulan. Sepanjang perjalan itu, mereka melantunkan selawat dengan aksen langgam Jawa.

Pembacaan doa seribu tumpeng dalam tradisi Kirab Selikuran di Keraton Solo. Foto: Khalim Mahfur.

Di antara mereka ada juga yang membawa sebuah kotak kaca yang berisi tumpeng besar, serta beberapa kotak berwarna cokelat dengan cara ditandu. Rupanya isi kotak-kotak tersebut merupakan tumpeng-tumpeng kecil yang berjumlah seribu buah dan nantinya akan dibagikan kepada masyarakat.  

-Advertisement-

Sesampainya di masjid agung, para abdi dalem langsung duduk menempatkan diri dengan rapi. Sebuah tumpeng besar dan kotak-kotak yang berisi tumpeng kecil itu kemudian diletakkan di tengah-tengah mereka.

Baca juga: Tradisi Nyadran, Upaya Mengingat Leluhur di Bulan Ruwah yang Ada Sejak Zaman Majapahit

Setelah itu, perwakilan dari pihak keraton menyerahkan tumpeng tersebut kepada takmir masjid. Setelah diterima, tumpeng kemudian didoakan dan kemudian tumpeng yang kecil dibagikan kepada abdi dalem serta seluruh masyarakat yang hadir di Masjdi Agung Keraton Solo.

Acara kirab selikuran rutin digelar oleh Keraton Kasunanan Surkarta setiap malam ke-21 bulan Ramadan. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menyongsong malam Lailatul Qadar dengan harapan mendapat berkah dan rahmat dari Allah  SWT.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo, KRA Dani Nur Adiningrat menjelaskan, acara Kirab Selikuran merupakan upacara yang wajib dilakukan oleh Keraton Kasunanan Surakarta sebagai kerajan Mataram Islam. 

“Sampeyan Dalem (Raja Keraton Solo) memerintahkan Utusan Dalem untuk membawa Hajat Dalem Tumpeng Sewu ini adalah untuk Wilujengan. Wilujengan itu dari kata Kawilujengan atau keselamatan. Jadi doa keselamatan dilambangkan seribu bulan lewat seribu tumpeng dan lewat ting-ting melambangkan cahaya, jadi penuh cahaya, penuh barokah, penuh ampunan,” terangnya.

Masih dalam tradisi tersebut, lanjut Dani, abdi dalem dan masyarakat dimohon oleh Raja untuk mendoakan keselamatan terhadapnya, permaisuri, serta purta-putri dan keturunannya. Selain itu, juga medoakan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga: Tradisi Tabuh Beduk Blandrangan di Menara Kudus Sambut Awal Ramadan

“Jumlah tumpengnya seribu, sebagai wujud keberkahan dari Alah SWT sebagai wujud kebahagiaan wujud banyak doa kebaikan,” jelasnya.

Ketua Takmir Masjid Agung Solo, M Muhtarom menambahkan, seribu tumpeng itu bermakna, siapapun yang mendapatkan malam Lailatul Qadar itu mendapatkan keutamaan, atau dinilai sebagai ibadah selama 83 tahun berturut-turut tanpa berhenti.

“Keraton dalam hal ini juga menyongsong itu dengan kefadilahan (keutamaan) yang semacam itulah keraton mengusung seribu tumpeng, kemudian didoakan, dibagikan kepada seluruh masyarakat ataupun yang hadir di Masjid Agung Surakarta,” terangnya.

Muhtarom menjelaskan, Kirab Selikuran merupakan adat dari kerajaan Demak yang merupakan akulturasi budaya antara Islam dan Buddha. Tradisi malam selikuran itu kemudian berlanjut mulai dari Kerajaan Pajang, Mataram, Kotagede, Kartasura, dan saat ini di Surakarta dan Ngayogyakarta.

“Semuanya mengambil konsep yang sama. Jadi semuanya meneruskan adat istiadat, nilai-nilai Islam dalam budaya Jawa,” pungkas Muhtarom.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER