Ceng Beng, Tradisi Ziarah Kubur Warga Tionghoa yang Dilaksanakan Ketika Musim Semi

BETANEWS.ID, SEMARANG – Tak banyak yang tahu, selain tradisi Tahun Baru Imlek, warga Tionghoa juga mempunyai tradisi Ceng Beng yang sudah turun temurun sejak ribuan tahun yang lalu.

Tokoh Tionghoa Kota Semarang, Harjanto Kusuma Halim mengatakan, tradisi Ceng Beng merupakan acara ziarah ke makam leluhur yang biasanya dilaksanakan pada tanggal 4 atau 5 April.

“Biasanya tradisi itu dilaksanakan ketika pertengahan musim semi saja,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (25/3/2022).

-Advertisement-

Baca juga: Lepas Burung Pipit, Tradisi Imlek Warga Tionghoa untuk Buang Sial

Ceng Beng ini cenderung lebih sepi dibanding dengan perayaan Tahun Baru Imlek, karena isinya hanya ziarah kubur dan melakukan persembahyangan.

“Namun di beberapa daerah di Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatra, tradisi Ceng Beng itu malah lebih ramai dibandingkan dengan Hari Raya Imlek,” paparnya.

Dia menjelaskan, tradisi Ceng Beng hampir mirip dengan tradisi ziarah kubur yang dilakukan oleh masyaeakat Jawa pada umumnya.

“Jadi kalau dulu itu karena dianggap sakrak harus membawa makanan khusus,” paparnya.

Kalau sekarang, lanjutnya, warga Tionghoa yang melakukan tradisi Ceng Beng dibebaskan membawa makanan apa saja.

“Yang paling penting makanan  itu pantas untuk dimakan. Jadi bisa bawa lumpia, pizza dan lain-lain,” imbuhnya.

Baca juga: Ribuan Warga Datangi Makam Desa Ploso Kudus untuk Laksanakan Tradisi Nyadran Jelang Ramadan

Rata-rata warga Tionghoa melakukan tradisi Ceng Beng ketika pagi hari. Hal itu untuk menghindari  panas matahari.

“Biasanya kita kalau melakukan itu rombongan ketika pagi,” ujarnya.

Salah satu versi sejarah menyebut, tradisi Ceng Beng berawal dari kisah seorang raja yang mencari kuburan sahabatnya.

“Makannya itu sebenarnya adalah tradisi ziarah seperti orang di sini,” imbuhnya.

Menurutnya, yang paling penting dalan tradisi Ceng Beng adalah napak tilas agar generasi penerus bisa mengetahui perjuangan leluhurnya.

“Jadi mereka bisa tahu apa saja yang dilakukan leluhurnya, perjuangannya seperti apa. Saya berharap nantinya ketika tradisi Ceng Beng itu ada waktu untuk menceritakan cerita leluhur,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER