BETANEWS.ID KUDUS – Ahmad Suyatno (50) terlihat telaten memberi makan ayam kalkun di kandang belakang rumahnya. Wadah makan yang berada di beberapa sudut itu satu demi satu diisi makanan berbahan eceng gondok. Setiap menaruh pakan, wadah itu langsung diserbu puluhan kalkun yang berebut makanan.
Sekejap kemudian, Suyatno memilih untuk mundur dan menyaksikan binatang piaraannya itu makan dengan lahap. Bagi dia, eceng gondok itu makan kalkun itulah yang benar-benar merubah hidupnya.
Berawal mengetahui eceng gondok bisa dikonsumsi ayam kalkun melalui media sosial, Suyatno yang awalnya bekerja sebagai sopir itu pun akhirnya memutuskan untuk berternak kalkun. Apalagi, keberadaan eceng gondok di Undaan itu sangat banyak dan mencemari air.
Baca juga: Olahan Kalkun Ala Thailand di Dapur Raos Eco Undaan Ini Bikin Pengen Tambah Nasi Terus
“Waktu itu saya rembukan sama istri untuk merintis peternakan, karena di daerah Undaan populasi eceng gondok sangat banyak,” ucapnya, Rabu (02/02/22).
Saat awal merintis 2017 lalu, Suyatno hanya membeli sepasang kalkun. Berkat ketelatenannya, rintisan peternakan itu pun membuahkan hasil dan akhirnya berkembang menjadi banyak. Apalagi, sekali bertelur, induk kalkun bisa menghasilkan 25-30 telur.
Tak selalu mulus, awal merintis usaha ternak, lanjut Suyatno, dirinya sempat rugi hingga jutaan rupiah lantaran 50 ekor kalkun mati karena terserang virus.
“Dulu waktu pertama merintis pernah rugi jutaan rupiah, karena 50 kalkun saya mati gara-gara terserang virus AI. Tapi sekarang alhamdulillah sudah belajar, ternyata cara perawatannya cukup mudah,” ucapnya.
Baca juga: Harga Sentuh Rp 5 juta per Ekor, Suyatno Bagikan Tips Sukses Ternak Ayam Kalkun
Meski pernah rugi, hal itu tidak menjadikan Suyatno jatuh dan berhenti, tetapi ia tetap bangkit. Sampai akhirnya semangatnya pun kini terbayar dengan sukses menjalankan ternak kalkun.
“Sekarang total populasi yang saya miliki ada sekitar 400-an ekor,” imbuhnya.
Kini, Suyatno mulai menernak berbagai jenis kalkun yang ada delapan jenis dari kalkun hias hingga kalkun yang bisa dikonsumsi. Pembeli hasil ternak Suyatno pun kini semakin luas, karena pemesannya dari berbagai daerah, baik dari penduduk Pulau Jawa maupun luar.
“Saya juga membuka warung makan kalkun, agar kuliner kalkun semakin dikenal oleh masyarakat luas. Saya berharap nantinya Undaan bisa menjadi sentra peternak kalkun,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

