31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Cerita Masa Kecil Shokib, Pernah Ketiduran di Hutan dan Pulang Penuh Luka

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, pada September 2020, udara sejuk terasa di sebuah gubuk yang berada di hutan Gunung Muria. Seorang pria mengenakan topi dengan kaus lengan panjang bertuliskan perkumpulan masyarakat pelindung hutan (PMPH) tampak duduk di sana. Ia adalah Muhammad Shokib Garno Sunarno, ketua PMPH, sebuah organisasi yang ia dirikan pada 2000.

Pria yang akrab disapa Shokib itu berbagi cerita kepada betanews.id tentang masa kecilnya. Katanya, sejak kecil dia memang suka pergi ke hutan sendiri. Dari delapan saudaranya, hanya Shokib yang suka main ke hutan.

Waktu kecil, Shokib memiliki peliharaan seekor anjing. Anjing tersebut yang menemaninya bermain ke hutan. Setiap hari setelah pulang sekolah dia pergi ke hutan bersama anjingnya itu. Pada suatu hari, setelah lelah main di hutan, dia beristirahat hingga ketiduran.

-Advertisement-

Baca juga: Muhammad Shokib Wafat, Selamat Jalan Sang Penjaga Muria

“Pernah ketiduran di hutan, saya berangkat siang dan ketiduran sore. Saat itu masih terang, saya istirahat malah ketiduran. Waktu terbangun sudah gelap gulita, hanya ada anjing yang masih di samping saya. Kemudian saya lari dengan anjing saya,” ucap anak ke lima dari delapan bersaudara itu.

Karena keadaan gelap gulita, Shokib merasa takut dan berlari sekencang-kencangnya. Tanpa dirasa, setelah keluar dari hutan seluruh tubuhnya sudah dipenuhi dengan luka. Sesampainya di rumah, orang tuanya tidak marah. Dia hanya disuruh mandi dan makan.

“Lecet luka semua karena kena batu dan pohon. Kemudian pulang disuruh mandi dan makan, tidak dimarahi. Waktu itu saya masih duduk dibangku SMP punya peliharaan anjing kecil,” ungkap pria dengan nama lahir Garno Sunarno pada tahun 1964 di Desa Colo, Dawe Kudus itu.

Seiring berjalannya waktu anjingnya tumbuh besar dan ganas. Ia membeberkan, jika anjingnya sering menyerang orang. Karena hendak dibunuh orang tuanya, kemudian Shokib memilih untuk menjualnya saja.

Baca juga: Cegah Erosi, PMPH Tanam Seratusan Pohon di Wilayah Kritis Gunung Muria

“Anjing itu hanya menurut dengan saya saja, karena setiap pulang sekolah langsung saya ajak ke hutan. Semenjak saya SMA, anjingnya mulai galak. Sering nyerang orang kalau saya tidak di rumah, bahkan pernah memberobatkan orang Desa Kajar. Terakhir gigit mbah, kemudian mau dibunuh bapak. Karena saya tidak boleh kemudian saya jual,” ujar juru kunci Makam Sunan Muria sejak tahun 1998 itu.

Menurut Sokhib, orang tuanya tidak banyak memberi aturan. Dia dibebaskan untuk berekspresi selama tidak merugikan orang lain. Masa kecilnya memang sering bermain di hutan. Setelah tumbuh dewasa, Shokib masih sering menghabiskan waktu di hutan bahkan menganggap hutan menjadi rumah ke duanya.

Hingga pada akhirnya ia mendirikan PMPH di tahun 2000 sebagai wujud kepeduliannya terhadap hutan Muria. Berawal dari sembilan orang, sekarang sudah ada sekitar 40 orang anggota. Pada 2016, keturunan Raden Umar Said (Sunan Muria) ke 14 itu menerima penghargaan Kalpataru kategori pembina lingkungan.

Editor: Ahmad Muhlsiin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER