Haryanto (kanan), Pemilik PO Bus Haryanto. Foto: Kaerul Umam

Setahun lebih pandemi Covid-19 melanda. Dampaknya, sektor ekonomi terkena imbas, tak terkecuali perusahaan otobus di bidang transportasi. Perusahaan otobus banyak merugi dan bahkan ada yang gulung tikar karena sepi penumpang. Momen libur Lebaran yang biasanya mampu untuk mendongkrak pendapatan pengusaha otobus, tahun ini harus gigit jari lagi.

Sama seperti tahun sebelumnya mudik Lebaran kembali dilarang. Tahun ini Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 13 tahun 2021. Dalam surat tersebut ditulis larangan mudik Lebaran tahun ini.

Tak pelak para pemilik perusahaan otobus (PO) di Kudus meradang. Pasalnya, potensi pendapatan besar yang bernilai puluhan miliar rupiah di depan mata hilang. Larangan mudik tersebut semakin membuat penguasaha otobus terpuruk.

Haryanto, pemilik PO Haryanto mengungkapkan kekesalannya terhadap larangan mudik tersebut kepada Tim Liputan Khusus Beta News, saat disambangi di garasi Kudus beberapa waktu lalu. Dia mengungkapkan momen mudik Lebaran yang biasanya bisa untuk mendongkrak pendapatan, harus direlakan hilang karena ada larangan.

Ibaratnya, momen lebaran itu masa panen. Bila beroperasi, satu armada bisa menghasilkan pendapatan bersih antara Rp 10 juta hingga Rp 12 juta sehari. Itu hanya satu armada, sedangkan kami ada 200 armada

Haryanto, Pemilik PO Haryanto

“Ibaratnya, momen lebaran itu masa panen. Bila beroperasi, satu armada bisa menghasilkan pendapatan bersih antara Rp 10 juta hingga Rp 12 juta sehari. Itu hanya satu armada, sedangkan kami ada 200 armada. Bila dikali masa waktu tidak diperbolehkan beroperasi karena kebijakan larangan mudik, total uang yang melayang bisa puluhan miliar,” ujar Haryanto, Rabu (21/4/2021).

- advertisement -

Pengusaha yang juga pensiunan Tentara Negara Indonesia (TNI) tersebut menuturkan, dengan dilarang mudik Lebaran tidak hanya perusahaan bus yang kehilangan pendapatan. Namun juga para kru, sopir dan kondektur juga terancam menganggur dan tak punya penghasilan. Padahal mereka juga butuh uang untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.

“Dengan begitu, perusahaan lagi yang menanggungnya. Termasuk memberi pinjaman uang untuk biaya hidup para sopir dan kondektur selama tidak beroperasi, dan uang untuk Lebaran. Sedangkan jumlah pekerja kami tidaklah sedikit, ada ribuan pekerja,” bebernya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini