
Hal yang sama juga dikatakan oleh Manajemen PO Shantika Kudus. Priyo Kelana, Manajer Operasional PO Shantika mengungkapkan, adanya larangan lagi mudik lebaran tahun ini, perusahaan terancam merugi besar. Potensi pendapatan besar harus kembali lenyap seperti setahun lalu. Biasanya, bila penumpang penuh, satu armada PO Shantika bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp 7 juta.
“Penghasilan tersebut di hari-hari biasa. Kalau libur Lebaran penghasilan kami bisa lebih besar, bisa sampai Rp 15 juta per bus. Kami punya 75 armada, Tinggal mengalikan saja, totalnya belasan miliaran rupiah perhari,” ujar pria yang akrab disapa Priyo.
Dia mengungkapkan, penghasilan satu armada Rp 15 juta dikali 75 armada jumlah uangnya ada sekitar Rp 1,225 miliar. Jika dikali hari larangan mudik yakni mulai tanggal 6 Mei 2021 sampai 17 Mei 2021, atau sekitar 12 hari total pengahsilan yang melayang ada Rp 13,5 miliar.
“Bayangkan saja uang sebesar itu yang seharusnya bisa untuk menutup kerugian di masa pandemi harus melayang. Terus kapan panennya perusahaan otobus. Masak kami harus menanam terus gak panen-panen,” kata Priyo mengibaratkan kesusahan perusahaan otobus.
Pria yang bekerja di PO Shantika sejak 2005 itu mengatakan, pada musim Lebaran tahun lalu (2020) PO Shantika sudah nol penghasilan, karena kebijakan larangan mudik dari pemerintah. Adanya larangan mudik lagi tahun ini, perusahaan terancam mengalami nasib serupa. Ia berharap kebijakan tersebut dikaji ulang, karena sangat merugikan para perusahaan otobus.
“Kami berharap kebijakan itu dikaji ulang. Kami minta perusahaan otobus diperbolehkan mengangkut penumpang pada mudik Lebaran tahun ini. Kalau alasannya pandemi kan bisa dengan penerapan protokol kesehatan ketat,” ujarnya.
Dengan dilarang mudik, lanjut Priyo, yang berpotensi kehilangan penghasilan tidak hanya perusahaan otobus. Namun, para awak bus yang di dalamnya ada sopir, kondektur dan lainnya juga berpotensi tidak mendapat penghasilan. Jumlahnya tidak sedikit, di PO Shantika saja krunya itu ada ratusan orang.
“Pekerja di PO Shantika itu ada 350 orang. Kalau mudik dilarang, ratusan orang itu malah jadi pengangguran menjelang Lebaran. Jumlah kru tersebut hanya di PO Shantika, belum perusahaan otobus lainnya di Kudus,” ucapnya.






