BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak sedang duduk dan sambil memotong adonan kue dengan ukuran kecil. Potongan adonan tersebut langsung tercampur wijen yang sudah disiapkan di sebuah alas. Setelah itu tampak seorang pria terlihat menyaring adonan itu dengan alat khusus dan mengoreng adonan untuk kue keciput tersebut hingga matang.
Kue keciput yang matang dari penggorengan, kemudian didinginkan sebentar sebelum dikemas. Pada Ramadan ini, kue widaran produksi Toko Kue Widaran & Keciput Barokah 78, permintannya meningkat.

Baca juga : Kue Nastar Mickey Mouse Diklaim Tanpa Bahan Pengawet dan Tahan Hingga 6 Bulan
Istiqomah (47), Pemilik Toko Kue Widaran & Keciput Barokah 78 mengatakan, jika dibanding dengan hari biasa di luar Ramadan, ada peningkatan permintaan dua kali lipat.
“Kalau Ramadan bisa sampai empat kwintal dalam satu sebulan. Kalau hari biasa setidaknya satu kwintal. Tapi itu masih jauh dibanding sebelum pandemi. Kalau Ramadan bisa sampai 15 kwintal,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Jl DR Wahidin Sudirohusodo No 78, RT 2 RW 2, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
Untuk bahan bakunya, katanya, ia telah menyiapkan jauh-jauh hari sebelum Ramadan. Harga bahan bakunya pun, katanya, mengalami kenaikan. Sehingga, ia juga menaikkan harga keciputnya tersebut.
“Untuk bahan baku yang naik banget itu minyak goreng, dari harga Rp 350 ribu per 17 liter menjadi Rp 450 ribu,” ungkapnya.
Untuk keciput, ia banderol dengan harga Rp 70 ribu per satu kilogram. Sedangkan untuk kue widaran dihargai Rp 100 ribu per kilonya.
Baca juga : Berhenti jadi Guru Honorer, Arif Pilih Tekuni Usaha Kue Kering
“Pelangan saya pun tidak masalanh bila saya naikkan harganya, yang penting rasanya masih sama. Daripada tetap memberi harga murah, tetapi mengganti bahan baku, kan nanti akan mengubah kualitas rasa,” jelasnya.
Isti mengatakan, yang membuat kue keciputnya bisa bertahan sampai saat ini, karena rasanya yang gurih serta memiliki teksture garing dan empuk.
Editor : Kholistiono

