BETANEWS.ID, SEMARANG – Beban yang ada di pundak Sri Suwarti begitu berat. Anak perempuan semata wayangnya kini menempuh perguruan tinggi di salah satu kampus di Kota Semarang.
Bekerja sebagai penambal ban, Sri sempat ragu dengan pilihan anaknya yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat ini, anak semata wayangnya itu sudah menginjak semester IV.
Kesedihannya semakin memuncak ketika suaminya mempunyai masalah pada matanya sejak empat tahun yang lalu. Mulai saat itu, dia yang meneruskan usaha tambal ban tersebut.

Baca juga : Awalnya Rela Kerja Serabutan untuk Bantu Suami, Agnes Temukan Ladang Rezeki di Laundry
Keahlian tambal ban didapatnya secara otodidak ketika menemani suaminya melakoni pekerjaan sebagai penambal ban. Meski pada awalnya sempat kewalahan, namun saat ini dia sudah mulai membiasakan diri
“Kalau usaha bapak (suaminya) sudah 20 tahun yang lalu, tapi empat tahun ini saya yang meneruskan, karena suami saya sakit mata,” jelasnya saat ditemui di lokasi, Senin (8/3/2021).
Setiap hari, dia harus membagi waktunya antara bekerja dan keluarga. Setiap jam 4 pagi, dirinya selalu bangun untuk salat dan menyiapkan makanan untuk keluarganya.
“Jam 4 pagi sebelum Subuh, saya bangun masak, terus jam 7 saya berangkat kerja,” ujarnya.
Ditambah saat pandemi seperti ini, jarang orang yang keluar. Bahkan, ketika awal pandemi dia sempat tak dapat pelanggan selama tiga hari karena jalanan sepi.
Namun saat ini sudah mulai banyak orang yang beraktivitas. Hal itu membuatnya bernafas sedikit lega. Meski disibukkan dengan pekerjaannya menjadi tukang tambal ban, Sri tak pernah meninggalkan salatnya.
Setiap kali terdengar adzan, dirinya langsung menutup tambal ban miliknya dan menuju ke tempat ibadah atau rumah untuk istirahat dan salat.
Meski pekerjaan tambal ban terasa berat, dia tetap bersyukur anaknya tak malu mempunyai ibu seorang penambal ban. Anaknya yang saat ini sedang kuliah, justru sering membantunya.
Baca juga : Cerita Haru Penjual Pisang di Pinggir Jalan, Siti: ‘Agar Anak Saya Bisa Sekolah Kayak Lainnya’
Bahkan, tak jarang juga dia mengajak temannya untuk main ke tempat tambal ban milik orang tuanya itu. Anak semata wayangnya itu adalah harapan satu-satunya bagi Sri dan suaminya.
“Alhamdulillah anak saya tak malu mempunyai ibu seorang penambal ban, teman-temannya justru sering diajak,” tutupnya.
Editor : Kholistiono

