BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa mobil dan motor tampak terjajar di area parkir restoran di tepi utara Jalan Museum Kretek, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Di dalam resto tersebut, terlihat beberapa orang sedang menikmati sajian yang disediakan. Sedangkan di bagian depan seorang pria mengenakan kaus hitam memberikan instruksi kepada para karyawannya. Pria tersebut yakni Ardi Muhammad Ridho pemilik Resto Ulam Sari Kudus.
Seusai memberi arahan kepada beberapa pekerjanya, pria yang akrab diapa Ardi itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai merintis usaha Resto Ulam Sari sejak sembilan tahun yang lalu, tepatnya pada 2011. Namun, sebelum berjodoh dengan usaha resto, dia sudah jatuh bangun dengan berbagi macam usaha.

“Wah sebelum bertemu dengan usaha kuliner, saya itu sudah kenyang makan asam garam dalam merintis usaha. Berbagai macam usaha telah saya jalani. Awalnya berjalan baik, tapi kemudian berhenti alias gulung tikar,” ujar Ardi kepada Betanews.id, Rabu (24/9/2020).
Baca juga: Bikin Banyak Orang Kepincut, Gurame Bakar Resto Ulam Sari Memang Istimewa
Pria asal Klaten itu mengatakan, sebelum usaha restoran, ia pernah merintis usaha konveksi untuk ekspor luar negeri; Pernah juga jadi depo pasir dan produksi paving blok serta buis beton; Pernah juga mengelola mebel untuk ekspor. Namun, kata dia, usaha tersebut gagal semua, alias bangkrut.
“Ya mungkin karena usaha itu tidak murni usaha sendiri, ya. Kita masih ikut orang, atau menginduk ke usaha lain. Jadi kalau usaha induknya itu jebol, kita juga kena imbasnya,” jelasnya.
Setelah semua usaha yang dijalaninya gagal, ia pun ikut kerja saudaranya yang punya usaha lesehan. Di tempat tersebut, ia bekerja sebagai pelayan dan tidak dibayar. Hanya dapat makan dan satu bungkus rokok. Hingga suatu hari ada pemilik modal datang, menawari saudaranya untuk mengelola restoran milik orang tersebut.
Namun, kata dia, tawaran itu ditolak oleh saudaranya. Mengetahui hal itu, ia pun menemui sang pemilik restoran, dan menawarkan diri untuk mengelola restorannya. Ternyata tawaran itu disetujui pemodal. Lambat laun, restoran yang dikelolanya itu jadi tempat makan paling favorit di Klaten. Pengunjung yang datang tidak hanya orang Klaten saja, tapi banyak juga yang dari luar kota.
“Sewaktu mengelola restoran itulah ada pengunjung dari Kudus. Dia tertarik untuk mendirikan restoran serupa di Kota Kretek. Serta menawarkan kerja sama, agar saya bersedia jadi pengelolanya. Tawaran itu langsung saya terima,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Hamim, Mantan Pekerja Proyek yang Sukses Bisnis Kuliner Kampoeng Sawah Segaran
Warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu menuturkan, pada tahun 2005 ia datang ke Kudus untuk mengelola restoran tersebut dengan perjanjian selama lima tahun. Tapi setelah lima tahun, kontraknya tidak diperpanjang. Sehingga ia kemudian berinisiatif untuk mendirikan restoran sendiri.
“Setelah kontrak kerja sama tidak diperpanjang, setahun kemudian tepatnya pada 2011 saya merintis usaha restoran sendiri bernama Ulam Sari,” ujar pria yang sudah dikaruniai tiga anak tersebut.
Dia mengatakan, awalnya Resto Ulam Sari mengangkat konsep resto dan pemancingan. Namun, karena banyaknya pelanggan yang datang, konsep pemancingannya tidak jalan. Menurutnya, dengan menu andalan ikan bakar gurame, Resto Ulam Sari selalu jadi jujugan para pecinta kuliner. Tidak hanya orang Kudus saja tapi juga banyak yang datang dari luar kota.
Baca juga: Rubiyati, Nenek Hebat Asal Kudus yang jadi Penambal Ban Selama Puluhan Tahun
“Pelanggan yang datang banyak, hampir seluruhnya dari Karesidenan Pati. Bahkan banyak juga pelanggan yang datang itu mobilnya plat nomor jauh-jauh. Ada yang dari Jakarta, Semarang, Tegal, dan lain sebagainya.
Sekarang, kata dia, selain melayani sajian makan, Resto Ulam Sari juga menerima paket acara wedding party, khitanan, ulang tahun, dan lain sebagainya dengan harga yang sangat terjangkau. Dengan luas lahan 6.000 meter persegi, Resto Ulam Sari sangat cocok untuk penyelanggaraan acara tersebut.
“Saya berharap ke depan Resto Ulam Sari makin banyak pelanggan. Saya juga bersyukur, datang dari Klaten hanya bermodal motor Smash, hingga bisa punya usaha resto sendiri. Semoga ke depan makin lancar dan berkah,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

