BETANEWS.ID, KUDUS – Dua bak berukuran lebih kurang 2X3 meter tampak berisi bibit ikan lele yang jumlahnya mencapai ribuan. Sang pemilik, Supriono (48) menyampaikan, jika ribuan bibit lele tersebut jenisnya adalah Sangkuriang. Lelaki yang akrab disapa Badrun ini mengatakan, jika dirinya sudah 23 tahun menekuni budidaya ikan lele.
Lelaki yang tinggal di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus ini, merupakan Ketua Paguyuban Minasalam. Tempatnya dulu, juga pernah menjadi percontohan budidaya ikan lele di Jawa Tengah.
Pada kesempatan ini, Badrun sudi berbagi tips bagaimana budidaya bibit ikan lele, untuk menghasilkan lele yang berkualitas.
Dikatakan Badrun, dalam sehari bibit lele harus diberi makan 3 kali. Yakni pagi, sore dan malam hari.
Baca juga : Pembibitan Lele Pertama di Kudus, Pernah jadi Percontohan di Jateng
“Ini memengaruhi pertumbuhan bibit, yakni membuat bibit cepet besar. Kalau makanannya sendiri itu beda-beda. Kalau bibitnya masih usia sekitar 1 minggu sampai 10 hari, kita kasih makan cacing sutera yang dicacah. Selanjutnya baru pelet ,” papar Badrun, Selasa (23/6/2020).
Untuk takarannya sendiri, Badrun mengatakan, jika bibit lele usia di bawah 1 minggu bisa menghabiskan sekitar 3-4 gelas cacing sutera. Itu minimal untuk bak dengan isi bibit minimal 90 sampai dengan 120 ekor. Sedangkan, sesudah 1 minggu, bibit tersebut membutuhkan sekitar 8-10 gelas cacing sutera setiap hari. Pakan tersebut yang dikatakan Badrun cukup menguras kantong. Barulah saat bibit lele siap diberi makan pelet, ia agak bisa bernapas karena lebih hemat.
“Jadi bisa dihitung saja, cacing sutera itukan mahal ya. Kalau normal saja harganya Rp 10 ribu. Kalau pas mahal bisa sampai Rp 25 ribu per gelas. Itu tinggal dikalikan saja. Karena satu pasangan indukan biasanya bisa menghasilkan bibit minimal sebanyak 90 sampai 120 ekor. Mahalnya pakan bibit lele itu di sana. Nanti kalau sudah ganti pelet lebih murah,” papar dia.
Untuk perawatannya sendiri, dikatakan Badrun, gampang-gampang sulit. Ia menjelaskan, jika faktor cuaca sangat memengaruhi. Oleh karena itu, ia menyarankan bagi pembibit atau peternak lele sebaiknya tempat yang digunakan di ruang terbuka dan luas. Karena lele membutuhkan ruang untuk berkembang menjadi besar. Sekaligus kelembaban suhu juga mempengaruhi perkembangan lele.
Baca juga : Lebih Menjanjikan dan Tak Ada Matinya, Usman Sukses Budi Daya Lele
“Selain faktor cuaca, kadang juga PH air yang tidak tepat, lalu ketidaktepatan pangan yang diberikan. Selain itu juga virus dan penyakit. Jadi kadang ada yang kena jamur atau mengalami pembusukan insang. Itu yang membuat pertumbuhan terhambat,” kata dia.
Kendala lain yang dialami oleh Badrun ialah tingginya harga pakan. Sehingga, ia tak heran bahwa usaha ternak lele kadang dengan mudah ditinggalkan dan beralih ke budidaya lain. Hal ini karena bahan pakan lele semakin tinggi, sedangkan harga jual di pasar masih sama.
Editor : Kholistiono

