BETANEWS.ID, KUDUS – Deretan tanaman buah naga tampak terpelihara dengan baik di sebuah lahan yang berada di Desa Pasuruhan Kidul, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tak banyak aktivitas yang bisa ditemukan di tempat tersebut saat tanaman tak lagi berbuah. Kontras sekali dengan kondisi kebun ketika masuk masa panen yang ramai dikunjungi masyarakat.
Tempat tersebut adalah Hutan Naga Organik, kebun buah naga yang membuka wisata petik buah saat panen. Kebun yang dirintis sekitar empat tahun lalu itu dimiliki oleh beberapa orang yang diketuai Eko Purnomo (51).

Dia menjelaskan, hingga saat ini, mereka masih terus mencoba dan mengusahakan supaya ribuan pohon buah naga yang ditanam berbuah secara produktif. Soalnya, tanaman yang berasal dari Amerika itu memiliki musim buah pada Maret sampai Mei.
Baca juga: Tamasya Sambil Belajar Berkebun Buah Naga di Hutan Naga Organik
Makanya, lanjut Eko, pihaknya mencoba memberikan rangsangan lain berupa pemanfaatan teknologi sinar ultraviolet dari lampu. Sehingga, pohon dapat berbuah setiap waktu dan lebih cepat dari pada biasanya.
“Buah naga, kan paling bagus ditanam di lahan yang mendapat sinar ultraviolet yang cukup dari matahari. Makanya, di sini tidak ditutup atasnya. Selain itu, ada juga pemberian lampu (ultraviolet) yang sudah kami setting dengan timer untuk hidup dan nyalanya. Ini bisa merangsang pertumbuhan bunga dan buah,” paparnya, Minggu (14/6/2020).
Dikatakan Eko, pemberian lampu ultraviolet dianggap penting, lantaran tempat tersebut sudah merintis wisata edukasi. Sehingga, jika bisa berbuah sepanjang waktu, akan memudahkan pengelola untuk menerima kunjungan.
“Kalau pelatihan mulai dari pengenalan buah dan pohon, terus cara memetik, hingga membuat pupuk. Yang datang berbagai macam kalangan, mulai dari PAUD, TK, terus ada yang dari pabrik. Ada juga dari yang akan pensiun dari kerjanya dan ibu-ibu rumah tangga,” jelas Eko.
Baca juga: Sediakan Aneka Bibit Anggur Unggulan, Aan Punya Pelanggan dari Seantero Nusantara
Menurut Eko, cara pelatihan itu cukup efektif untuk menularkan ilmu yang mereka dapat dari komunitasnya. Ia mengatakan, jika budi daya dengan cara organik bisa dilakukan untuk bidang apapun.
“Nah, di hutan naga ini juga sama. Kami perlakukan secara organik. Dari pengolahan tanah, pupuk serta obat semprotnya organik,” tutup Eko.
Editor: Ahmad Muhlisin

