RS Mardi Rahayu Dukung Rotary Club Kudus Latih 50 Guru SD Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Anak

BETANEWS.ID, KUDUS – Rotary Club Kudus dan Rotary Club Kudus Srikandi bekerja sama dengan Rotary Club Semarang Kunthi dan RS Mardi Rahayu menggelar pelatihan dasar skrining kesehatan mata bagi guru sekolah dasar, utamanya di Kecamatan Kota, Kudus. Pelatihan tersebut digelar di Gedung Zaitun RS Mardi Rahayu, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini gangguan penglihatan pada anak. Sebanyak 50 guru dari 22 SD di wilayah binaan Puskesmas Wergu mengikuti pelatihan untuk melakukan skrining sederhana terhadap ketajaman penglihatan siswa.

Presiden Rotary Club of Kudus, Paulus Rawuh, mengatakan guru dipilih karena menjadi pihak yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan siswa di sekolah. Dengan kemampuan skrining dasar, gangguan penglihatan pada anak diharapkan dapat diketahui lebih awal.

-Advertisement-

“Jadi akan ada 50 guru yang dilatih untuk bisa melakukan skrining ketajaman penglihatan mata anak-anak SD. Supaya kalau ditemukan sejak dini, pencegahan bisa dilakukan sejak awal dan mendapatkan penanganan yang tepat oleh tenaga kesehatan,” bebernya.

Menurutnya, gangguan penglihatan pada anak kerap tidak disadari. Kondisi tersebut bahkan dapat memengaruhi proses belajar karena anak kesulitan melihat tulisan di papan maupun materi pembelajaran.

“Banyak anak sekolah yang tidak terdeteksi ternyata mengalami gangguan ketajaman penglihatan. Mereka sebenarnya bukan bodoh, tetapi karena penglihatannya kurang tajam sehingga tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik,” ujarnya.

Skrining yang dilakukan guru nantinya menggunakan metode sederhana dengan kartu Snellen. Guru akan dilatih melakukan pemeriksaan awal dan mengidentifikasi siswa yang dicurigai mengalami gangguan penglihatan.

Secara ideal, pemeriksaan menggunakan kartu Snellen dilakukan dari jarak sekitar enam meter. Rotary juga berencana menyediakan kartu tersebut ke sekolah-sekolah agar pemeriksaan dapat dilakukan secara rutin.

“Setiap sekolah nanti kita kasih, supaya mereka secara rutin bisa melakukan skrining. Kalau ada kecurigaan, bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” jelas Paulus.

Jika ditemukan adanya kelainan, siswa akan diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan bersama tenaga medis atau dokter mata. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk menentukan apakah anak membutuhkan kacamata atau penanganan medis lainnya.

Paulus menyebut gangguan refraksi seperti miopia atau mata minus menjadi salah satu kelainan yang dapat ditemukan pada anak. Selain pelatihan, program Rotary juga akan dilanjutkan dengan pemeriksaan mata dan bantuan kacamata gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang benar-benar membutuhkan.

“Kami nanti juga akan memberikan bantuan kacamata gratis bagi anak-anak SD yang tidak mampu dan memang benar-benar membutuhkan bantuan kacamata,” katanya.

Untuk pemeriksaan lanjutan, Rotary memiliki mobil klinik yang nantinya akan didatangkan dari Semarang ke Kudus. Pemeriksaan akan dilakukan bersama tim Rotary, pihak sekolah, serta puskesmas.

Program tersebut tidak hanya dilaksanakan di Kudus. Paulus mengatakan kegiatan serupa juga dilakukan di Semarang dan Pati. Pelatihan di Pati telah dilaksanakan sebelumnya, sementara Kudus menjadi salah satu wilayah pelaksanaan berikutnya.

Direktur Utama RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, guru merupakan salah satu agen penting dalam mendeteksi gangguan kesehatan anak sejak dini.

“Guru-guru adalah salah satu agen yang penting di dalam mendeteksi kelainan, dalam hal ini mata maupun yang lainnya, sejak dini. Dengan pelatihan ini kami sangat mendukung dan siap bekerja sama,” tuturnya.

Ia menilai gangguan penglihatan dapat berdampak langsung terhadap kemampuan anak mengikuti pembelajaran. Ketika anak tidak dapat melihat tulisan di papan dengan jelas, bukan hanya ketidaknyamanan yang muncul, tetapi juga berpotensi membuat anak dianggap malas belajar dan akhirnya mengalami penurunan prestasi.

Karena itu, menurut Pujianto, kegiatan skrining tersebut memiliki dua fungsi sekaligus, yakni preventif dan promotif.

Selain deteksi dini, ia juga mengingatkan pentingnya kebiasaan menggunakan perangkat elektronik secara sehat. Penggunaan gawai dengan pencahayaan yang kurang baik, terlalu dekat dengan mata, atau dilakukan sambil tiduran dan dalam posisi miring dinilai perlu dihindari.

“Cara menggunakan HP yang baik juga penting. Jangan sampai bukan hanya deteksinya yang dilakukan, tetapi pencegahan gangguan ketajaman penglihatan juga dilakukan sejak dini,” katanya.

Pujianto berharap program tersebut dapat dievaluasi setelah pelaksanaan awal. Jika hasilnya menunjukkan banyak anak yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, program serupa dinilai layak diperluas ke wilayah lain.

Sementara itu, Masmirah, guru SD 2 Melati Lor yang mengikuti pelatihan, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pemeriksaan mata penting dilakukan karena selama proses pembelajaran terdapat siswa yang mengeluhkan tulisan di papan kurang jelas.

“Ini sangat penting bagi kita untuk mengetahui lebih dini kondisi anak-anak. Kami sangat antusias dan senang karena kegiatan ini bermanfaat bagi anak-anak maupun bagi kami sebagai guru,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER