Di Balik Lereng Muria, Warga Tempur Jepara Bangun Ekosistem Ekonomi Sendiri

BETANEWS.ID, JEPARA – Di ketinggian lereng Gunung Muria, tepatnya di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, denyut nadi kehidupan warganya kini tidak sekadar diukur dari seberapa banyak biji kopi yang mereka panen, tetapi juga seberapa cerdik mereka memutar roda ekonomi.

Sri Rahayu (46), atau akrab disapa Yayuk, tidak sekadar menjadi guru sekolah dasar (SD). Kini, ia mengelola perputaran uang hingga ratusan juta rupiah agar warga desanya tidak perlu menghabiskan waktu menuruni jalanan berkelok dan turunan tajam untuk datang ke bank.

Di sudut desa yang lain, Nur Solikin (52), atau akrab disapa Aji, sibuk menggiling dan mengemas kopi organiknya dengan mesin modern agar lepas dari jerat harga tengkulak. Sementara itu, Zainuddin (35) giat merawat tiga hektare lahan warisan dengan modal pinjaman bank yang ritme pembayarannya disesuaikan dengan musim panen.

-Advertisement-

Mereka bertiga adalah potret warga Desa Tempur yang kini sedang mengukir kisah yang sama. Jarak 52 kilometer atau sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Jepara tidak menyurutkan langkah mereka untuk mandiri secara ekonomi.

Akses menuju Desa Tempur memang tidak mudah. Lokasinya yang berada di balik lereng Gunung Muria membuat desa ini rawan mengalami bencana tanah longsor. Hal itu pernah terjadi pada awal 2026 yang menyebabkan akses keluar-masuk desa sempat terputus.

Untuk menuju pusat Kecamatan Keling saja, warga harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer atau 30 menit perjalanan menggunakan kendaraan.

Kondisi tersebut disikapi Yayuk dengan mengambil peluang yang berawal dari ketidaksengajaan. Ia mendaftar menjadi Agen BRILink pada 2017. Dari yang awalnya hanya melayani belasan orang per hari, kini transaksinya mencapai 30 hingga 50 transaksi setiap hari. Yayuk pun hadir layaknya bank yang menjadi andalan warga.

“Kalau pas ramai, itu pas musim panen biasanya pengepul-pengepul besar itu tarik tunainya di sini. Kadang perputaran sehari itu bisa ratusan (juta),” ungkap Yayuk saat ditemui di Warung Agen BRILink miliknya di Dukuh Pekuso RT 1 RW 3, Desa Tempur, beberapa waktu lalu.

Berada di kawasan lereng pegunungan yang akses sinyalnya masih terbatas menjadi kendala pada masa awal Yayuk menjadi Agen BRILink. Kondisi itu semakin parah saat hujan turun dan aliran listrik padam. Desa pun seolah menjadi terisolasi.

“Kadang itu transaksi harus ngulang-ngulang mencari sinyal, kadang malah pas enggak ada sinyal sama sekali kita harus turun gunung, ke jalan, cari sinyal dulu baru bisa transaksi,” beber Yayuk.

Yayuk mengelola Agen BRILink yang kini juga menjadi toko sembako bersama suaminya, Budi Riyanto (46). Tidak hanya menjadi agen perbankan, Yayuk juga memanfaatkan pinjaman modal untuk berekspansi.

Mereka memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) ganda yang dijalankan secara bersamaan. Pada 2021, mereka mencairkan KUR senilai Rp250 juta untuk berinvestasi membeli lahan perkebunan kopi. Selanjutnya, mereka kembali memperoleh KUR senilai Rp100 juta untuk membangun bangunan fisik toko sembako.

Jika Yayuk memanfaatkan modal bank untuk mendekatkan akses keuangan dan memperluas kebun, lain halnya dengan Nur Solikin atau Aji.

Aji awalnya tidak berniat menjadi petani kopi. Jalan hidupnya yang terasa hampa setelah lama merantau membuat ia akhirnya memutuskan pulang ke desa pada 2012. Sejak saat itu, ia menekuni usaha perkebunan kopi.

Dengan modal pinjaman KUR yang perlahan meningkat hingga mencapai plafon Rp100 juta, Aji menggunakan dana tersebut untuk “menaikkan” kelas biji kopi dengan mengolahnya menjadi kopi bubuk.

“Dipakai buat modal (perawatan lahan kopi) sudah pasti. Sekarang saya kan punya produk (kopi), otomatis kan butuh alat. Modal KUR itu buat beli grinder, terus sealer, sampai kemasan,” jelas Aji.

Berkat mesin pengolahan mandiri tersebut, Aji kini bisa terbebas dari ketergantungan kepada tengkulak yang pada 2012 hanya membeli kopi ceri seharga Rp15 ribu per kilogram. Setelah diolah menjadi kopi bubuk, nilainya dapat mencapai Rp80 ribu per kilogram.

Namun, persoalan bahan baku kopi masih menjadi kendala yang dihadapi Aji. Pangsa pasar produk kopinya kini sudah meluas, bahkan pernah menembus pasar ekspor. Meski demikian, hal itu belum dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“Kendalanya kalau saat ini di bahan baku untuk mempertahankan pasar ekspor,” ungkap Aji.

Di sudut desa yang lain, Zainuddin (35) memiliki kisah tersendiri. Sama seperti Aji, ia awalnya juga tidak tertarik menjadi petani kopi. Sebelumnya, ia bekerja serabutan di Kabupaten Pati.

Hingga akhirnya ada yang mengenalkan Zainuddin pada varietas kopi yang semula ditentang masyarakat, tetapi justru menghasilkan buah yang lebat.

Zainuddin kemudian tertarik menekuni perkebunan kopi pada 2012. Saat ini ia mengelola lahan kopi seluas tiga hektare. Sebagian merupakan warisan orang tuanya, sedangkan sebagian lainnya merupakan lahan sewaan milik Perhutani.

Untuk mendukung perawatan kebun, Zainuddin memanfaatkan pinjaman modal KUR BRI dengan masa pembayaran cicilan yang dapat disesuaikan dengan ritme panen kopi. Panen raya biasanya berlangsung setahun sekali, yakni pada Agustus hingga September.

“Saya sudah empat kali (ambil KUR). Mulai dari Rp15 juta, naik ke Rp25 juta, lalu pernah Rp100 juta, dan terakhir Rp50 juta, karena menyesuaikan kebutuhan. Kalau cicilan saya ambilnya bukan per bulan, tapi satu musim per tahun,” tutur Zainuddin.

Zainuddin berencana tetap memanfaatkan fasilitas KUR meskipun kini telah memiliki modal yang cukup untuk merawat lahannya. Hal itu dilakukan agar namanya tetap tercatat sebagai nasabah aktif sehingga tidak perlu mengurus kembali persyaratan administrasi dari awal.

Mobilitas Zainuddin dan para pengepul kopi kini juga semakin mudah karena ekosistem ekonomi di Desa Tempur semakin saling terhubung. Transaksi penjualan kopi kerap menggunakan sistem transfer, sedangkan jika membutuhkan uang tunai, ia cukup datang ke toko milik Yayuk.

“Ketika ada BRILink itu ya warga Tempur agak enak, enggak sampai jauh-jauh ke kantor yang jaraknya bisa setengah jam lebih,” ujar Zainuddin.

Kepala BRI Unit Kelet, Vero Afief Saputra, mengatakan jumlah nasabah penerima KUR di Desa Tempur mencapai 278 orang dengan total realisasi penyaluran sebesar Rp10,8 miliar.

Bagi petani, kata Vero, BRI memberikan kemudahan berupa tenor atau masa pembayaran cicilan yang dapat disesuaikan dengan tujuan peminjaman.

“Kalau kebutuhan pinjamnya untuk stek atau penanaman, itu bisa satu tahun (masa cicil). Tapi kalau dia hanya untuk perawatan, misal mintanya enam atau tujuh bulan, ya enggak apa-apa,” jelas Vero.

Terpisah, Dosen Magister Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, Mohamad Rifqy Roosdhani, mengatakan masuknya layanan keuangan yang dipadukan dengan digitalisasi menjadi kunci mengubah desa yang terisolasi menjadi mandiri secara ekonomi.

Menurutnya, kemandirian tersebut dapat dicapai dengan memutus ketergantungan terhadap pihak luar sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

“Dengan hadirnya KUR, Agen BRILink, dan digitalisasi, inklusi keuangan pun terbentuk. Ketika rantai ini terus berkembang, Desa Tempur yang semula terisolasi bukan tidak mungkin bisa menjadi desa mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Apalagi, Rifqy menambahkan, jika didukung dengan pengembangan pariwisata lokal, Desa Tempur dapat tumbuh layaknya “Bandungan”-nya Jepara.

Entah kapan Desa Tempur benar-benar menjadi “Bandungan”-nya Jepara. Namun, di lereng Gunung Muria itu, Yayuk, Aji, dan Zainuddin tidak menunggu. Mereka sedang membangunnya, satu transaksi dan satu musim panen pada satu waktu.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER