BETANEWS.ID, JEPARA – Malam itu, jam menunjukkan pukul 23.00 WIB saat pintu rumah Sri Rahayu (46), atau akrab disapa Yayuk, warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, digedor oleh tetangganya yang datang dengan raut wajah penuh kepanikan.
Kejadian itu terjadi sekitar tahun 2020. Tetangganya datang memaksa Yayuk untuk mentransfer uang. Yayuk tidak mengingat secara pasti berapa nominal yang diminta, namun jumlahnya mencapai kisaran jutaan rupiah.
Tetangganya panik karena mendapat telepon yang mengabarkan bahwa anaknya yang bekerja di luar kota mengalami kecelakaan parah.
Tetangganya mendatangi rumah Yayuk karena ia membuka jasa layanan keuangan sebagai Agen BRILink sejak 2017.
Berbekal pengalamannya yang sudah cukup lama menjadi Agen BRILink, Yayuk dengan cepat menyadari bahwa yang dialami tetangganya merupakan salah satu modus penipuan digital atau scam.
“Orangnya itu sudah tak kasih tahu, mboten usah Pak, enggak usah ditransfer itu penipuan, tapi masih ngotot,” tutur Yayuk saat ditemui di Warung Agen BRILink miliknya di Dukuh Pekuso RT 1 RW 3, Desa Tempur, beberapa waktu lalu.
Karena tetangganya masih bersikeras dan terus meminta Yayuk mentransfer sejumlah uang, ia akhirnya mengambil alih telepon milik tetangganya.
Setelah telepon itu diambil alih Yayuk, kepanikan tetangganya perlahan mereda. Yayuk pun berhasil menyelamatkan tetangganya dari modus penipuan yang berpotensi menimbulkan kerugian hingga jutaan rupiah.
Sebagai Agen BRILink, Yayuk bercerita bahwa ia sendiri juga pernah mendapat telepon yang mengarah pada tindakan penipuan.
Kejadian itu baru terjadi pada 2026. Yayuk ditelepon seseorang yang mengaku sebagai pihak BRI Jakarta. Ia diberi tahu bahwa dirinya mendapat hadiah. Namun, ia sama sekali tidak tertarik karena sudah memahami bahwa hal tersebut merupakan modus penipuan.
“Saya sendiri pernah dapat telepon yang ngakunya dari BRI Jakarta, katanya saya dapat hadiah. Tak jawab, ya kalau dapat hadiah njenengan ambil aja,” beber Yayuk.
Yayuk mengatakan kesadarannya terhadap modus penipuan tersebut diperoleh dari hasil berbagi informasi dengan mantri BRI maupun sesama Agen BRILink se-Kabupaten Jepara yang tergabung dalam komunitas di grup WhatsApp.
Pihak BRI, menurut Yayuk, juga sering memberikan sosialisasi maupun informasi terbaru terkait berbagai modus penipuan melalui grup tersebut.
“Tahunya (modus penipuan atau scam) ya dari sharing sesama agen, dari BRI juga sering memberikan informasi,” kata Yayuk.

Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), lembaga yang dibentuk oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejak 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026, total aduan penipuan yang diterima dari konsumen maupun masyarakat mencapai 432.637 aduan dengan total nilai kerugian sebesar Rp9,1 triliun.
Fake call atau modus penipuan melalui telepon masih menjadi salah satu modus yang perlu diwaspadai. Berdasarkan data yang dirilis, sejak 22 November 2024 hingga Oktober 2025, modus tersebut menempati urutan kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia.
Hal itu sejalan dengan yang disampaikan oleh Agus Winarso, Manajer Mikro BRI Cabang Jepara. Agus mengatakan tren kejahatan digital atau scam saat ini memang masih marak terjadi. Salah satu yang masih sering ditemukan ialah penipuan melalui telepon.
Meskipun demikian, menurut Agus, tren kejahatan tersebut sebenarnya tidak menunjukkan modus yang benar-benar baru karena merupakan modus lama yang masih terus digunakan.
“Trend kejahatan itu memang tergolong modus lama, melalui telepon. Tapi meskipun modus lama, ini masih menjadi tantangan utama yang menuntut kewaspadaan tinggi untuk dicegah,” ungkap Agus saat ditemui di Kantor Cabang BRI Jepara.
Sebagai upaya memberikan perlindungan kepada masyarakat yang bertransaksi melalui Agen BRILink, Agus mengatakan pihaknya selalu memberikan pembekalan secara berkelanjutan, baik melalui grup WhatsApp harian maupun pertemuan tatap muka bulanan yang didampingi oleh Petugas Pemasar Agen BRILink (PPBK).
“Karena agen BRILink itu kan sebetulnya mereka kan kepanjangan tangan dari perbankan. Mereka rata-rata, sebulan sekali kumpul. Nah, pada waktu kumpul itu biasanya ngundang kita. Nah, kita sosialisasi di situ,” jelas Agus saat ditemui di Kantor Cabang BRI Jepara.
Dalam pendampingan tersebut, pihaknya juga selalu memperbarui informasi mengenai tren penipuan yang sedang marak. Agen juga dibekali panduan khusus untuk mengenali indikasi penipuan dan diminta proaktif bertanya kepada nasabah apabila melihat gelagat mencurigakan saat akan melakukan transfer uang.
“Termasuk untuk yang indikasi penipuan, itu juga perlu untuk dicek, ditanyakan mau transfer ke siapa. Terus kan kadang bingung kan, ‘tapi jangan bilang-bilang ya ini saya yang telepon’, kan sering kayak gitu,” pungkas Agus.
Untuk itu, Agus menghimbau masyarakat agar selalu mengecek kebenaran informasi saat menerima pesan atau telepon, baik yang menawarkan iming-iming hadiah maupun yang meminta transfer uang.
Editor: Kholistiono

