Muhammad Karnan (79) bersama satu karyawan yang membantunya terlihat sibuk membuat pesanan mi dadat atau mi jawa. Mereka tampak berbagi tugas membuat mi dan mengantar minuman kepada masing-masing pelanggan.
Usai melayani pembeli, Karnan begitu ia akrab disapa, bersedia berbagi kisahnya merintis usaha kuliner yang laris manis sejak dulu itu. Ia menuturkan, awal merintis usaha karena keresahannya bekerja dengan orang di perantauan tetapi tidak dibayar. Akhirnya ia memutuskan pulang dan merintis usaha yang diberi nama Warung Mie Dadat.
“Dulu kerja merantau di Sumatera daerah bukit, ya kerjanya buat mi juga, tapi karena waktu itu tidak dibayar akhirnya lelah, lalu memutuskan pulang saja,” jelasnya saat ditemui benerapa waktu lalu.
Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang
Untuk menuju itu, dirinya lantas memilih usaha mi karena ia dan temannya menyukai kuliner tersebut. Ia juga mengungkapkan, kesehariannya memang makan mie dan akhirnya mencari cara lain dengan membuat mi sendiri yang sehat untuk dikonsumsi.
“Saya aslinya orang Jepara lalu menetap di Kudus, buat usaha ini hanya ada di Kudus saja, belum ada di kota-kota lain,” tuturnya.
Ia mengaku, ide untuk membuka usaha mi sudah ada sejak merantau. Bahkan, ia membuat adonan mie sendiri hanya dengan bahan tepung terigu saja untuk menemukan rasa yang pas. Selain itu, ia juga berusaha menyajikan mi yang sehat untuk dikonsumsi.
“Kalau membuka warung Mie Dadat pertama kali di Kudus sejak tahun 1972. Jadi sudah sangat lama,” bebernya.
Karnan menilai, membuka warung di Kudus sangat cocok, karena mie Dadat rasanya begitu identik dan terkenal dengan rasa manis dan gurih. Rasa itulah yang menurutnya cocok dengan lidah masyarakat Kudus.
Baca juga: Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan
“Setiap hari saya membuat 50 kilogram mi. Kalau untuk porsinya tidak dihitung, yang penting jualnya sampai habis, kadang pukul 20.00 WIB sudah habis,” jeasnya.
Karnan juga mengatakan ada kendala yang dialami, yaitu bersaing dengan perusahaan-perusahaan modern pembuat mi. Meski ada persaingan, ia tetap optimis dengan mi buatannya.
“Memang sulit, perusahaan besar lebih muda. Dulu pakai manual, sekarang tambah maju ya pakai alat yang bisa cepat karena sudah tua. Saya kerja lambat sudah tidak sekuat dulu,” tambahnya.
Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI
Editor: Ahmad Rosyidi

