Padi Biosalin Jadi Tumpuan Harapan Petani di Pesisir Jepara 

BETANEWS.ID, JEPARA – Masuknya air laut ke area lahan persawahan menjadi salah satu tantangan serius bagi para petani di kawasan pesisir Kabupaten Jepara. 

Air laut yang masuk ke area sawah petani, seketika membuat batang tanaman padi jadi menguning. Padi terancam gagal tumbuh hingga akhirnya mati. 

Salah satu petani di kawasan pesisir Jepara, Ahmad Faris yang merupakan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sari Utomo Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, bercerita ancaman ganasnya air laut yang menyerang tanaman padi sudah lama dialami oleh para petani. 

-Advertisement-

“Pernah saya itu, dua minggu lagi mau panen, karena kena air laut, mati semua. Buahnya langsung putih semua, padinya ngga bisa dipanen,” kata Faris pada Betanews.id, Sabtu (10/1/2026). 

Baca juga: 22 Hektare Sawah di Pesisir Jepara Jadi Lahan Uji Coba Padi Biosalin 

Karena sudah sering terjadi, jika tanaman padi baru mulai masa penanaman, Faris melanjutkan biasanya petani akan mengganti bibit tanaman padi yang mati akibat terkena air laut. 

Namun, hal tersebut membuat biaya pengeluaran petani jadi bertambah. Sebab petani harus menyediakan stok bibit lebih sebagai antisipasi jika tanaman padi mati akibat terkena air laut. 

“Kalau baru ditanam, bibitnya di tanam ulang (kalau terkena air laut). Biasanya petani memang punya stok bibit lebih,” ujarnya. 

Ancaman ganasnya air laut, menurut Faris lebih sering terjadi pada saat Masa Tanam (MT) ke-II. Sebab di masa itu, kondisi cuaca biasanya mulai memasuki musim kemarau. Sehingga curah hujan mulai jarang. Air laut yang masuk ke area sawah petani lebih cepat membuat tanaman padi menjadi mati. 

Berbeda dengan MT I, dimana kondisi cuaca masih sering terjadi hujan sehingga bisa membantu menetralkan air laut yang masuk ke lahan sawah petani. 

“Kendalanya itu paling berat di MT II, karena mulai masuk masa kekeringan, uap air asin lebih mudah masuk ke sawah petani. Terutama yang dekat laut tantangannya paling berat,” ujarnya. 

Kini dengan adanya bantuan bibit padi berjenis Biosalin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Pertamina Gas Negara (PGN), Faris berharap bantuan itu bisa menjadi solusi permasalahan petani di kawasan pesisir. 

Jika uji coba penanaman Padi Biosalin yaitu jenis padi yang mampu tahan terhadap air laut bisa berhasil, nantinya bibit padi itu akan ditanam di seluruh lahan sawah di Desa Suwawal. 

“Karena dari namanya Biosalin, bisa tahan dengan lahan salin (air asin), jika memang terbukti tahan dan hasilnya memuaskan akan dikembangkan di seluruh area persawahan,” katanya. 

Baca juga: Puluhan Hektare Lahan Sawah di Jepara Siap Ditanami Padi Biosalin 

Hal serupa juga turut disampaikan oleh Rois, Ketua Kelompok Tani Jaya III, Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo yang juga menjadi lokasi uji coba penanaman padi Biosalin. 

Rois mengatakan air rob dan air laut menjadi salah satu ancaman bagi petani di daerahnya hingga mengakibatkan sering gagal panen. Pada tahun 2017 lalu, desanya memang pernah mendapat bantuan benih padi yang tahan terhadap air laut. Tapi itu hanya bertahan hingga tahun 2022. 

“Setelah itu padinya kalau ditanam udah jadi gersang, akhirnya petani ngga mau nanam lagi,” ujar Rois saat dihubungi melalui sambungan telepon. 

Rois berharap uji coba penanaman padi Biosalin itu bisa berhasil. Sehingga petani di desanya tidak lagi dibayangi air laut yang mengancam pertumbuhan tanaman padi.

Sebagai informasi, Kabupaten Jepara terpilih menjadi salah satu lokasi uji coba penanaman Padi Biosalin di lahan seluas 22 hektare. 

Terbagi di Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo dan Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo masing-masing 10 hektare. Sisanya di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa seluas 2 hektare. 

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER