Intip Proses Pembuatan Patung di Desa Tamansari Pati

BETANEWS.ID, PATI – Dua orang terlihat sibuk mengerjakan sebuah patung dari tanah liat di sebuah studio patung sederhana yang terletak di sebuah gang kecil di Dukuh Sani, Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Studio beratap asbes itu tidak terlalu besar, akan tetapi beberapa karya patung bernilai tinggi banyak diciptakan di Studio Patung Baruno ini. Beberapa contoh patung yang sudah jadi pun terlihat menghiasi setiap sudut ruangan.

Ialah Baruno Sidi (48), lelaki asli Purwodadi itu merupakan pendiri Studio Patung Baruno. Seniman patung ini, sudah melalang buana hingga ke mancanegara.

Rekan Baruno sedang mengecat patung yang sudah dibuat di Studio Patung Baruno Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu, Pati. Foto : Titis Widjayanti

Sambil membuat cetakan patung Buddhisme pesanan dari Bali, ia membagikan ilmu tentang pembuatan patung, khususnya yang sudah sering ia kerjakan. Baruno mengatakan jika pembuatan patung di tempatnya ada dua macam, yakni patung semen dan patung fiber. Meski begitu, tak jarang dirinya berkolaborasi dengan berbagai usaha seperti kuningan dan alumunium jika ada pemesan patung dengan bahan tersebut.

-Advertisement-

Baca juga : Kisah Saryono, Seniman yang Rela Melepas Jabatan Manajer di Perusahaan Asing, Hingga Ikut Andil Terwujudnya Museum Jenang Kudus

“Kalau awal kita buat cetakannya dulu dari tanah liat. Buat yang dalam, pakai lempung yang agak padat, buat luarnya pakai lempung yang lunak. Kerangkanya dari besi, biar lempungnya nggak roboh. Setelah itu baru dikasih fiber. Kalau sudah, fibernya itu jadi cetakan. Nanti baru dikasih fiber lagi buat patung yang aslinya. Terus nanti kalau sudah baru diwarnai sesuai pesanan,” papar Baruno, Sabtu (2/4/2020).

“Kalau patung yang seukuran manusia begini biasanya penggarapan sekitar satu bulan. Itu sudah full sampai finishing. Tapi tergantung kerumitan juga. Sebelum dicat, kalau patung besar tidak hanya amplas tetapi juga di gerinda hingga halus dan rapi. Baru setelah bentuknya rapi, nanti diwarnai,” papar lelaki lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta 27 tahun silam itu.

Baruno mengatakan, jika sudah banyak patung yang ia buat. Mulai dari ikon produk snack terkenal dari Kota Pati, hingga beberapa festival Internasional bersama dengan studio dari salah satu dosen seni rupa ISI Yogyakarta.

Diakuinya, sebelum berani membuka studio sendiri, dirinya sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari studio seni rupa lain yang berkali-kali menyabet kejuaraan perlombaan patung di kancah internasional.

Baca juga : Panggilan Mertua Pembuka Jalan Takdir Gimbal Jadi Seniman Bambu

“Memang untuk sekarang belum berani produksi massal. Masalahnya modal dan tenaga. Karena pematung yang benar-benar bisa matung itu nggak banyak. Pun bahan baku mahal. Seperti lempung yang saya pakai ini dari Yogyakarta saja per kilo harganya sampai Rp 10 ribu. Belum bahan buat membuat patungnya, paling murah memang patung semen, tetapi prosesnya paling lama,” paparnya.

Sejak tiga tahun studionya berdiri, dikatakan lelaki berkumis tebal itu, pembuatan patung sebesar manusia asli dari fiber dipatok dari harga Rp 7 juta sampai dengan Rp 12 juta. Sedangkan untuk ukuran di atas tiga meter dipatok hingga Rp 20 jutaan ke atas.

Dikatakan Baruno, interval harga tergantung kerumitan dan besar kecilnya patung. Dan pelanggan bisa sekaligus menggunakan jasa gambarnya untuk design awal patung atau membawa contoh gambar sendiri.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER